KLIKSUMUT.COM | BANDUNG – Kabar duka datang dari dunia konservasi satwa. Balai Besar KSDA Jawa Barat mengonfirmasi kematian dua anak harimau benggala koleksi Eks Kebun Binatang Bandung, yakni Hara dan Huru, yang masing-masing berusia 8 bulan. Kedua satwa dilaporkan mati akibat infeksi virus mematikan Feline Panleukopenia Virus (FPV), penyakit yang sangat menular dan berisiko tinggi pada satwa keluarga Felidae.
Plt. Kepala BBKSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, Sabtu (28/3//2026) menjelaskan bahwa kasus ini bermula pada 22 Maret 2026 saat Hara menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare. Tim medis awalnya menemukan adanya infeksi cacing dan langsung memberikan terapi antiparasit, vitamin, serta obat pendukung lainnya.
Sebagai langkah pencegahan, Huru yang berada dalam satu kandang juga diberikan perawatan serupa dan dipisahkan untuk mencegah potensi penularan.
Namun, kondisi Hara memburuk keesokan harinya dengan diare berdarah. Hasil rapid test menunjukkan positif FPV. Meski telah dilakukan penanganan intensif, Hara dinyatakan mati pada 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB. Hasil nekropsi mengungkap perdarahan masif pada saluran pencernaan dan kerusakan vili usus—ciri khas infeksi virus tersebut.
BACA JUGA: Kebersamaan Religius dan Keakraban Secara Adat di Open House RCM Group
Setelah kematian Hara, tim gabungan yang terdiri dari BBKSDA Jawa Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, serta UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat terus melakukan pemantauan terhadap Huru.
Huru sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah melewati fase kritis. Namun sayangnya, pada 26 Maret 2026 pukul 07.30 WIB, Huru juga dinyatakan mati. Hasil pemeriksaan menunjukkan gejala serupa, termasuk perdarahan usus, kerusakan vili usus, dan luka pada lambung, dengan hasil uji positif FPV.
FPV dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dan mematikan, terutama bagi satwa muda seperti anak Harimau Benggala. Virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah, khususnya di saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan usus secara luas.
Penularan dapat terjadi melalui:
- Kontak langsung dengan hewan terinfeksi
- Lingkungan yang terkontaminasi
- Benda perantara (fomite)
Satwa muda dengan sistem imun yang belum sempurna memiliki risiko kematian yang sangat tinggi jika terinfeksi.
BACA JUGA: TMMD Tuntaskan Asa Desa: Pangdam IV/Diponegoro Resmi Tutup Pengabdian TNI di Somagede
Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola Eks Kebun Binatang Bandung akan memperketat langkah biosekuriti, antara lain:
- Desinfeksi lingkungan secara intensif
- Pembatasan lalu lintas orang dan peralatan
- Peningkatan pengawasan kesehatan satwa, khususnya karnivora dari famili Felidae
Langkah ini diharapkan dapat mencegah penyebaran lebih lanjut dan melindungi satwa lain dari ancaman penyakit serupa. (KSC)
TIM REDAKSI








