KLIKSUMUT.COM | LABUHANBATU – Momen Bupati Labuhanbatu Maya Hasmita mengambil tepak sirih yang dibawa penari saat Tari Persembahan masih berlangsung dalam pembukaan Gebyar Kreativitas dan Inovasi Pendidikan Labuhanbatu di Eks Terminal Padang Bulan, Rantauprapat, Selasa (6/10/2026), menjadi perhatian publik.
Momen tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, Maya terlihat berdiri dari tempat duduknya, menghampiri salah seorang penari, mengambil tepak sirih, kemudian menyerahkannya kepada salah seorang yang hadir dalam kegiatan.
BACA JUGA: Ombudsman RI Perwakilan Sumut Nilai Pelayanan Publik di Polres Labuhanbatu
Tindakan tersebut menuai sorotan dari sejumlah pihak yang menilai penggunaan tepak sirih dalam Tari Persembahan memiliki makna adat yang perlu dipahami, khususnya dalam tradisi Melayu.
Tokoh pemerhati Labuhanbatu, Dahlan Bukhari, mengatakan tepak sirih merupakan bagian penting dalam tradisi Melayu dan memiliki makna penghormatan kepada tamu atau pihak yang dimuliakan dalam sebuah acara.
“Tepak sirih itu budaya Melayu yang sangat dihormati karena merupakan bentuk penghormatan kepada tamu yang menghadiri acara,” ujar Dahlan, Rabu (7/10/2026).
Mantan Ketua DPRD Labuhanbatu periode 2014–2019 itu juga menyoroti pemberian uang yang dikaitkan dengan penggunaan tepak sirih dalam acara tersebut. Menurutnya, pemberian apresiasi kepada penari semestinya dilakukan dengan mekanisme yang tidak menggeser makna simbolik tepak sirih.
Ia menilai, jika panitia ingin memberikan apresiasi atau dukungan biaya kepada para penari, khususnya karena sebagian besar penari merupakan pelajar, hal tersebut dapat dialokasikan melalui anggaran kegiatan atau diberikan setelah pertunjukan.
“Penari dominan adalah anak sekolah. Kostum mereka juga disewa dan biaya make up perlu didanai. Sebaiknya dialokasikan dana dari panitia acara tanpa kesannya para penari diajak mengumpulkan uang dari tamu yang hadir,” katanya.
Dahlan menyayangkan tindakan mengambil dan menyodorkan tepak tersebut kepada pihak lain ketika Tari Persembahan masih berlangsung. Ia menilai hal itu berpotensi menimbulkan pemahaman yang berbeda terhadap fungsi tepak sirih dalam tradisi Melayu.
Menurut dia, diperlukan pemahaman bersama antara pejabat daerah, penyelenggara kegiatan dan pelaku seni agar simbol-simbol adat tetap ditempatkan sesuai konteksnya.
Dahlan juga meminta Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Labuhanbatu dapat memberikan edukasi mengenai tata cara dan makna Tari Persembahan serta tepak sirih kepada para pemangku kepentingan.
“Sebaiknya MABMI mampu memberi pencerahan dengan memahamkan fungsi Tari Persembahan pada acara tertentu, sehingga peristiwa serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.
Hal senada, menurut Dahlan, dapat dilakukan Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Sekretariat Daerah Kabupaten Labuhanbatu. Pemahaman mengenai adat dan tata protokol dinilai penting agar pelaksanaan kegiatan resmi tetap selaras dengan nilai budaya yang digunakan.
Sementara itu, peristiwa tersebut juga mendapat beragam tanggapan dari warganet. Sebagian menilai tindakan memberikan uang kepada penari dapat dimaknai sebagai bentuk apresiasi terhadap pelajar yang tampil.
Namun, ada pula warganet yang mengkhawatirkan pemberian uang dalam konteks Tari Persembahan justru dapat menggeser pemahaman anak-anak terhadap makna tepak sirih.
Salah seorang warganet, Miashara Azh Zukhruv, melalui komentarnya menyatakan bahwa kritik yang disampaikan bukan didasari ketidaksukaan terhadap Bupati Labuhanbatu, melainkan kekhawatiran terhadap pemaknaan budaya yang diwariskan kepada generasi muda.
Menurutnya, tepak sirih dalam adat Melayu memiliki nilai penghormatan dan bahkan pada sebagian keluarga menjadi benda pusaka yang diwariskan lintas generasi.
Ia berharap para pejabat dan pemangku kepentingan semakin memahami serta menghargai adat istiadat setempat sehingga nilai tersebut dapat dikenalkan secara tepat kepada anak-anak.
“Semoga ke depan, para petinggi atau pejabat kita mau lebih menghargai adat istiadat atau budaya, sehingga bisa dipahami dan dipraktikkan pula oleh anak-anak kelak,” tulisnya.
Terlepas dari beragam tanggapan tersebut, penggunaan Tari Persembahan dalam kegiatan resmi pada dasarnya merupakan bagian dari upaya menghadirkan identitas budaya Melayu dalam penyambutan tamu dan penghormatan terhadap pihak yang hadir.
Gebyar Kreativitas dan Inovasi Pendidikan Labuhanbatu sendiri digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan dan mendorong lahirnya generasi unggul menuju Labuhanbatu Cerdas Bersinar serta Indonesia Emas 2045.
Kegiatan tersebut diramaikan ribuan pelajar tingkat SD, SMP hingga SMA sederajat serta menghadirkan pameran edukasi dengan 20 stan pembelajaran dari berbagai cabang KUPT dan Korwil Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu.
BACA JUGA: Wakapolres Labuhanbatu Hadiri Sedekah Segenggam Beras, Dorong Semangat Berbagi di Kalangan Pelajar
Dalam sambutannya, Bupati Maya Hasmita menyampaikan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia berkualitas. Karena itu, kreativitas dan inovasi di lingkungan pendidikan, menurutnya, perlu terus dikembangkan agar para pelajar mampu menghadapi tantangan dan perubahan zaman.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan langsung dari Bupati Maya Hasmita, khususnya statmen Pj Sekdakab Labuhanbatu Abdi Jaya Pohan
Pesan singkat yang dikirimkan ke gawai Sekdakab yang juga sebagai Kepala Dinas Pendidikan Labuhanbatu itu belum berbalas. Sehingga belum didapat klarifikasi yang ada.
Meski demikian, masih diberi ruang kepada pihak Bupati maupun Pemkab Labuhanbatu untuk menerangkan gambaran utuh mengenai konteks peristiwa tersebut. (KSC)
Reporter: Fajar Dame Harahap








