KLIKSUMUT.COM | LANGKAT – Di bawah rimbunnya hutan mangrove pesisir Desa Pasar Rawa, seorang pria bernama Kasto Wahyudi berdiri menatap hasil perjuangan panjangnya. Kawasan yang dulunya rusak parah kini kembali hijau, menjadi simbol perubahan sekaligus harapan baru bagi masyarakat pesisir.
Bagi sebagian orang, hamparan bakau itu hanyalah hutan biasa. Namun bagi Kasto, setiap batang mangrove menyimpan cerita tentang penyesalan, perjuangan, dan tekad untuk menebus kesalahan masa lalu.
Bertahun-tahun lalu, Kasto adalah bagian dari kerusakan lingkungan. Ia menebang bakau untuk kebutuhan bisnis arang, yang berdampak besar terhadap ekosistem pesisir.
Akibatnya, air laut berubah keruh, habitat rusak, dan hasil tangkapan nelayan seperti ikan, udang, serta kepiting menurun drastis.
“Dulu tangan ini yang merusak. Sekarang saya ingin memperbaiki,” kenang Kasto dengan nada penuh penyesalan, Selasa (28/4/2026).
Didorong rasa bersalah dan kondisi ekonomi yang sulit, ia mulai menanam mangrove secara mandiri. Langkah kecil itu kemudian diikuti oleh warga lain, termasuk mantan penebang bakau yang memilih beralih menjadi pelestari lingkungan.
Melalui Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama yang dibentuk sejak 2011, Kasto bersama warga berhasil menghidupkan kembali ekosistem pesisir. Kini, kondisi laut jauh lebih jernih dan biota laut kembali melimpah.
“Sekarang ikan, udang, dan kepiting sudah kembali. Laut tidak lagi keruh seperti dulu,” ujarnya.
Upaya tersebut juga mendapat pengakuan pemerintah melalui izin kemitraan perhutanan sosial seluas 178 hektar. Tak hanya menjaga lingkungan, kelompok ini juga mampu mandiri secara ekonomi lewat penjualan bibit mangrove.
Perjuangan warga Pasar Rawa turut menarik perhatian Pertamina EP Pangkalan Susu Field yang berada di bawah Pertamina Hulu Rokan Zona 1.
Melalui program pemberdayaan masyarakat, kawasan mangrove kini berkembang menjadi Edu-Ekowisata. Fasilitas seperti jalur tracking mangrove hingga homestay dibangun untuk mendukung sektor pariwisata berbasis lingkungan.
Transformasi ini juga membuka peluang ekonomi baru. Warga kini beralih profesi menjadi pengelola wisata dan pelaku UMKM, salah satunya produk olahan Baronang Crispy.
“Dulu dari arang hanya dapat Rp50 ribu. Sekarang dari pembibitan mangrove bisa Rp200 ribu per hari,” ungkap Kasto.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menilai kisah Kasto sebagai contoh nyata transformasi positif.
BACA JUGA: 6 Langkah Tukar Tambah HP Samsung di Blibli agar Nilai Tukar Optimal
“Ini bukti bahwa manusia bisa berubah dan memperbaiki alam,” ujarnya.
Ia berharap model pelestarian mangrove berbasis masyarakat di Pasar Rawa dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Kini, suara ombak yang tenang di sela akar mangrove menjadi saksi bahwa alam yang pernah rusak bisa pulih kembali selama ada kemauan untuk berubah. (KSC)
REPORTER: Dody Ariandi





