Chaseiro: Boy Group Legendaris Indonesia yang Lahir dari Kampus UI

Chaseiro: Boy Group Legendaris Indonesia yang Lahir dari Kampus UI
Chaseiro (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM – Nama Chaseiro menjadi bagian penting dalam sejarah musik Indonesia. Terbentuk pada tahun 1978, Chaseiro dikenal sebagai boy group Indonesia lintas genre yang memadukan harmoni vokal kuat dengan sentuhan jazz, pop, dan progresif. Meski berasal dari lingkungan akademik, kiprah Chaseiro justru melahirkan karya-karya musik yang melampaui zamannya.

Nama Chaseiro sendiri merupakan singkatan dari nama depan para anggotanya, yakni Candra Darusman (vokal, keyboard), (alm) Helmi Elzar Indrakesuma (vokal), Aswin Sastrowardoyo (vokal, gitar), Edwin Hudioro (flute), Irwan B. Indrakesuma (vokal), Rizali Wilmar Indrakesuma (vokal, bass), serta Omen Norman Sonisontani (vokal).

Chaseiro mulai dikenal luas setelah mengikuti kompetisi vokal grup Radio Amigos pada tahun 1978. Uniknya, seluruh personel Chaseiro merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari berbagai fakultas, seperti Kedokteran, Ekonomi, dan Ilmu-ilmu Sosial. Perpaduan latar belakang akademik ini menjadi ciri khas yang membedakan Chaseiro dari grup musik lain pada era tersebut.

BACA JUGA: Krakatau: Dari Jazz Fusion hingga World Jazz, Legenda Musik Indonesia yang Tak Pernah Padam

Setelah merilis empat album, Chaseiro mulai jarang tampil di panggung musik Indonesia pada tahun 1985. Hal ini disebabkan para personelnya telah menyelesaikan pendidikan dan memilih melanjutkan karier profesional di bidang masing-masing.

Namun, kerinduan terhadap dunia musik membawa Chaseiro kembali berkarya. Pada tahun 2001, mereka merilis album bertajuk “Persembahan” dalam format CD dan kaset. Album ini menjadi penanda kebangkitan Chaseiro setelah vakum cukup panjang.

Meski tidak tampil secara berkesinambungan, Chaseiro tetap menunjukkan eksistensinya dengan merilis album “Retro” (2011) dan “Retro 2” (2014). Karya-karya ini membuktikan bahwa Chaseiro mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas musikalnya.

BACA JUGA: Kisah Sukses Kotak, Band Rock Indonesia yang Lahir dari Ajang The Dream Band

Bacaan Lainnya

Perjalanan Chaseiro juga diwarnai duka. Dalam kurun 2011–2012, mereka kehilangan pemain pendukung Uce Hariono (drum) dan Ade Hamzah (bass/arranger). Duka mendalam kembali datang pada awal 2013, saat salah satu personel utama, Helmi Indrakesuma, wafat.

Meski demikian, semangat bermusik Chaseiro tetap hidup. Nama Chaseiro kini dikenang sebagai grup vokal legendaris Indonesia yang tak hanya berprestasi di dunia musik, tetapi juga menjadi simbol bahwa kreativitas dan pendidikan dapat berjalan beriringan. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait