KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap skenario terburuk apabila terjadi gempa bumi besar di segmen Megathrust Aceh-Andaman. Dalam skenario tersebut, gempa dapat mencapai magnitudo 9,2 (M9,2) dan berpotensi memicu tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter di sejumlah lokasi pesisir.
BMKG menegaskan, informasi mengenai potensi gempa megathrust tersebut bukan merupakan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Hingga saat ini, waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat.
Zona megathrust sendiri merupakan bagian dari zona subduksi, yakni wilayah tempat lempeng tektonik bertemu dan saling berinteraksi. Karena bidang kontaknya sangat luas, zona tersebut dapat menjadi sumber gempa bumi berkekuatan besar.
Dokumen BMKG juga mencatat segmen Aceh-Andaman sebagai salah satu sumber gempa dengan magnitudo maksimum yang dapat mencapai M9,2.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang 17 September 2026, Ini Daftar Wilayahnya
Skenario Gempa M9,2 dan Tsunami Lebih dari 10 Meter
Dalam skenario terburuk yang disampaikan BMKG, gempa Megathrust Aceh-Andaman berkekuatan M9,2 dapat menghasilkan guncangan maksimum hingga VIII Modified Mercalli Intensity (MMI).
Guncangan pada tingkat tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan pada bangunan, terutama bangunan yang tidak dirancang atau dibangun dengan prinsip ketahanan gempa.
Ancaman berikutnya adalah tsunami.
BMKG menyebut wilayah pantai barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai lebih dari 3 meter, sementara di sejumlah lokasi tertentu ketinggiannya dalam skenario pemodelan dapat mencapai lebih dari 10 meter.
Artinya, kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan sumber gempa perlu memiliki kesiapsiagaan dan jalur evakuasi yang jelas.
Indonesia Memiliki Banyak Zona Megathrust
Indonesia berada di kawasan tektonik yang sangat aktif dan memiliki sejumlah zona subduksi yang berpotensi menjadi sumber gempa bumi kuat.
Dalam daftar yang disampaikan, terdapat sejumlah segmen megathrust dengan potensi magnitudo maksimum tinggi, antara lain:
- Aceh-Andaman: M9,2
- Nias-Simeulue: M8,7
- Batu: M7,8
- Mentawai-Siberut: M8,9
- Mentawai-Pagai: M8,9
- Enggano: M8,9
- Jawa: M9,1
- Jawa bagian barat: M8,9
- Jawa bagian timur: M8,9
- Sumba: M8,9
- Sulawesi Utara: M8,5
- Palung Cotabato: M8,3
- Filipina Selatan: M8,2
- Filipina Tengah: M8,1
Data pemodelan dan segmentasi megathrust BMKG menunjukkan bahwa zona subduksi Indonesia memang mencakup sejumlah segmen yang mampu menjadi sumber gempa besar.
BMKG Tegaskan Bukan Ramalan Gempa
BMKG kembali mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami informasi mengenai megathrust.
Potensi magnitudo maksimum suatu segmen merupakan skenario atau kajian risiko, bukan pemberitahuan bahwa gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi dalam waktu tertentu.
BMKG sebelumnya juga menegaskan bahwa pembahasan mengenai potensi megathrust bukan berarti gempa besar akan segera terjadi. Informasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi masyarakat.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini
Untuk menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami, BMKG mengoperasikan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Sistem InaTEWS menyediakan informasi gempa dan tsunami serta pemantauan sensor seismik secara real time untuk mendukung penyampaian peringatan dini kepada masyarakat.
BMKG juga terus mengembangkan sistem peringatan dini serta memperkuat jaringan pemantauan gempa dan tsunami di Indonesia.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang 17 September 2026, Ini Daftar Wilayahnya
Apa yang Harus Dilakukan Jika Gempa Kuat Terjadi?
Masyarakat, terutama yang berada di wilayah pesisir, perlu memahami langkah penyelamatan diri.
Jika merasakan guncangan gempa yang kuat dan berlangsung cukup lama, jangan menunggu informasi tsunami untuk mulai menyelamatkan diri. Segera menjauh dari pantai dan tepi sungai.
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan:
- Saat gempa terjadi, lindungi kepala dan tubuh dari benda yang dapat jatuh.
- Setelah guncangan berhenti, segera keluar menuju tempat aman jika bangunan berisiko.
- Jauhi pantai dan tepi sungai apabila merasakan gempa kuat atau berlangsung lama.
- Jika berada di kawasan pesisir, segera menuju tempat yang lebih tinggi atau titik evakuasi.
- Ikuti informasi resmi BMKG, pemerintah daerah, radio, televisi, dan saluran informasi resmi lainnya.
- Jika terdengar sirene, kentongan atau tanda peringatan tsunami, segera lakukan evakuasi.
- Jangan kembali ke pantai sebelum ada informasi resmi bahwa kondisi telah aman.
Situs resmi InaTEWS juga menyediakan informasi peringatan tsunami dan panduan keselamatan setelah gempa.
Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Potensi gempa Megathrust Aceh-Andaman M9,2 merupakan bagian dari kajian risiko kebencanaan di Indonesia. Informasi tersebut penting dipahami sebagai dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan, bukan sebagai kepastian bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Dengan mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga bencana, memahami prosedur penyelamatan, serta memastikan bangunan memiliki prinsip ketahanan gempa, masyarakat dapat mengurangi risiko ketika bencana benar-benar terjadi.
Kewaspadaan bukan berarti panik. Yang paling penting adalah memahami risiko, mengikuti informasi resmi, dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa atau tsunami terjadi. (KSC)








