KLIKSUMUT.COM – Nama Bondan Prakoso dan Fade 2 Black tentu tidak asing bagi pecinta musik Indonesia. Grup ini dikenal melalui karya-karya hits seperti Kita Selamanya, Ya Sudahlah, hingga Bunga, yang hingga kini masih menjadi lagu wajib di berbagai panggung musik tanah air. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana awal mula terbentuknya kolaborasi unik antara musisi multi-instrumentalis Bondan Prakoso dan grup rap Fade 2 Black.
Pada tahun 2004, Bondan Prakoso berniat membuat sebuah proyek musik baru yang berani dan berbeda. Ia ingin menggabungkan berbagai genre—mulai dari rock, rap, hingga funk—ke dalam satu karya yang orisinal. Gagasan tersebut membuat Bondan mengajak Tito Budi Dwinanto alias Titz, rekannya semasa kuliah di Universitas Indonesia, untuk bergabung.
Titz kemudian memberikan usul penting: proyek ini akan semakin kuat jika seluruh anggotanya di Fade 2 Black ikut ambil bagian. Ajakan itu diterima, dan lahirlah sebuah formasi baru yang kelak mengubah warna musik Indonesia.
Pada akhir tahun 2004, Bondan & Fade 2 Black mulai merekam materi lagu pertama mereka. Bondan bertugas menggarap instrumen, looping, dan aransemen, sementara Fade 2 Black – terdiri dari Titz, Ari/Santoz, dan Eja/Lezzano – memfokuskan diri pada penulisan lirik bernuansa rap.
BACA JUGA: Kisah Sukses Kotak, Band Rock Indonesia yang Lahir dari Ajang The Dream Band
Perpaduan ini menghasilkan warna musik yang inovatif: rap yang kuat dipadukan dengan rock energik dan sentuhan funk yang khas.
Hanya dalam empat bulan proses produksi, pada Agustus 2005, album debut “RESPECT” resmi dirilis di bawah label Sony BMG Music Indonesia. Album berisi 12 lagu ini langsung menarik perhatian pecinta musik karena menawarkan konsep yang segar dan berbeda.
Kesuksesan album ini membawa mereka meraih penghargaan Best Rap Album Production di Indonesian Music Award 2006.
Pada November 2007, mereka merilis album kedua berjudul “UNITY”, dengan lagu populer seperti “Keroncong Protol”. Album ini semakin menegaskan kapasitas mereka sebagai grup musik kreatif yang mampu mencampur berbagai genre tanpa kehilangan ciri khas.
BACA JUGA: Kangen Band: Perjalanan Panjang Sang Ikon Pop Melayu dari Gang Sederhana hingga Panggung Nasional
Pengakuan pun kembali datang—album ini memenangkan Best Rap Album Production di Indonesian Music Award 2008.
Tahun 2010, mereka merilis album ketiga, “For All”, yang lebih universal dan memasukkan unsur genre dari berbagai masa. Dua tahun kemudian, hadir album keempat “Respect & Unity for All”, yang merupakan gabungan esensial dari album-album sebelumnya dan menegaskan perjalanan musikal mereka selama bertahun-tahun.
Kolaborasi antara Bondan Prakoso dan Fade 2 Black bukan hanya eksperimen musik biasa. Mereka membawa angin segar dalam industri musik Indonesia dengan kombinasi rap, rock, dan funk yang inovatif. Hingga kini, karya-karya mereka tetap hidup di hati para penggemar dan menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas genre bisa menghasilkan mahakarya yang bertahan sepanjang waktu. (KSC)
TIM REDAKSI








