KLIKSUMUT.COM | BRUSSEL – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama internasional dan diversifikasi rantai pasok global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia. Pesan tersebut disampaikan dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum 2026 yang berlangsung di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026).
Dalam forum bergengsi yang dihadiri pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, hingga media internasional tersebut, Airlangga menyoroti perubahan besar yang sedang terjadi pada arsitektur ekonomi global akibat konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme ekonomi.
Menurut Airlangga, dunia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga manfaat keterbukaan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan nasional masing-masing negara.
“Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” ujar Airlangga dikutip Minggu (7/6/2026).
Ia menegaskan bahwa solusi menghadapi tantangan global bukanlah memutus hubungan ekonomi antarnegara (decoupling), melainkan memperkuat diversifikasi, kolaborasi, dan kemitraan strategis.
“Jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships,” tegasnya.
Dalam paparannya, Airlangga menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di berbagai kawasan strategis dunia, termasuk wilayah sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah, menunjukkan betapa rentannya sistem ekonomi global terhadap gangguan geopolitik.
Ketegangan tersebut dapat memicu kenaikan biaya logistik, menghambat investasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia dalam waktu singkat.
Kondisi itu mendorong banyak negara menerapkan berbagai strategi economic security seperti kebijakan industri nasional, penyaringan investasi asing, hingga pengendalian ekspor guna menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Meski dunia menghadapi berbagai tekanan ekonomi, Indonesia berhasil menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat.
Airlangga mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I 2026, didukung inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang kuat, serta surplus neraca perdagangan yang telah bertahan lebih dari 70 bulan berturut-turut.
Capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi nasional yang tetap kokoh di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pemerintah juga terus mempercepat transformasi ekonomi melalui berbagai program strategis seperti hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, transformasi digital, dan pengembangan ekonomi hijau.
Menurut Airlangga, Indonesia kini menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok global untuk sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.
Indonesia berhasil menarik investasi dari Asia, Eropa, hingga Amerika Utara dalam pembangunan industri baterai kendaraan listrik, produksi material katoda, serta perakitan kendaraan listrik.
Perkembangan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia sekaligus mendukung diversifikasi rantai pasok energi bersih global.
Selain sektor industri, Airlangga juga menyoroti pesatnya perkembangan ekonomi digital nasional.
Indonesia diproyeksikan menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai gross merchandise value (GMV) yang diperkirakan melampaui USD130 miliar.
Transformasi digital dinilai menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di era ekonomi berbasis teknologi.
Dalam bidang energi, Indonesia terus memperkuat kemandirian energi melalui pengembangan energi terbarukan dan implementasi program biodiesel B50.
Kebijakan tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor.
Di hadapan peserta forum, Airlangga juga menegaskan komitmen Indonesia dalam memperluas kerja sama perdagangan internasional melalui berbagai perjanjian strategis.
Beberapa kerja sama yang terus didorong pemerintah antara lain:
- Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA);
- Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement;
- Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement;
- Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership;
- Organisation for Economic Co-operation and Development.
Langkah tersebut diyakini akan membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perekonomian global.
Sebagai anggota Association of Southeast Asian Nations, Group of Twenty, dan BRICS, Indonesia terus memainkan peran strategis sebagai penghubung antara negara maju dan negara berkembang.
Menurut Airlangga, posisi tersebut memungkinkan Indonesia menjadi katalisator dialog global dan mendorong terciptanya solusi ekonomi yang inklusif di tengah berbagai tantangan dunia.
Forum BESF 2026 sendiri ditutup oleh Maroš Šefčovič yang menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi global.
Menutup paparannya, Airlangga kembali mengajak seluruh negara untuk membangun sistem keamanan ekonomi yang terbuka dan inklusif.
“Mari kita bekerja sama membangun kerangka keamanan ekonomi yang lebih baik, yang mampu memperkuat ketahanan sekaligus menjaga keterbukaan, inklusivitas, dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi semua,” pungkasnya. (KSC)
TIM REDAKSI





