Viral “Video 8 Menit” Hilda Pricillya dan Pratu Risal H: Fakta, Hoaks, dan Bahaya Link Palsu

Viral "Video 8 Menit" Hilda Pricillya dan Pratu Risal H: Fakta, Hoaks, dan Bahaya Link Palsu
Hilda Pricillya

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Media sosial dalam beberapa hari terakhir diramaikan oleh isu beredarnya “video 8 menit” yang dikaitkan dengan Hilda Pricillya dan salah satu anggota TNI, Pratu Risal H. Unggahan yang menyebar luas di platform seperti Facebook, Instagram, dan X (dulu Twitter), memicu kehebohan warganet dan memunculkan ribuan pencarian terkait video tersebut.

Namun, hasil penelusuran berbagai sumber dan pakar keamanan siber menunjukkan bahwa tidak ada bukti valid yang membuktikan keberadaan video tersebut. Mayoritas tautan yang beredar justru berisi konten berbahaya, seperti phishing, malware, atau penipuan digital.

BACA JUGA: DKPP Buka Tanggapan Masyarakat Terhadap Calon TPD Unsur Masyarakat Periode 2025-2026

Media nasional seperti Radar Solo, iNews, dan Mamikos telah menelusuri kabar ini. Mereka mengungkap bahwa rumor tersebut bermula dari isu kedekatan Hilda Pricillya dan Pratu Risal H dalam kegiatan seni tari yang digelar beberapa waktu lalu. Namun, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan adanya video pribadi atau konten tidak pantas seperti yang diklaim di berbagai platform.

Beberapa tautan yang menyertakan judul seperti “Video 8 Menit Hilda Pricillya Viral” atau “Link Asli Video Pratu Risal H” nyatanya mengarah ke situs mencurigakan. Pakar menyebut, ini adalah taktik lama yang sering digunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menarik klik dan mencuri data pribadi pengguna.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Sidang Praperadilan Nadiem Makarim: Dihadiri Keluarga, Kuasa Hukum Ungkap Kejanggalan Penetapan Tersangka

Menurut analis keamanan siber yang dihubungi, fenomena seperti ini patut diwaspadai. “Kasus seperti ini sering dimanfaatkan untuk phishing atau penyebaran malware. Jangan pernah tergiur dengan judul sensasional atau tautan yang menjanjikan konten eksklusif,” jelasnya, Selasa (7/10/2025).

Ia menambahkan bahwa masyarakat harus lebih cermat dalam menerima informasi digital, apalagi yang melibatkan nama publik figur atau institusi resmi seperti TNI. (KSC)

Pos terkait