Tantangan dan Peluang SDM Pertanian saat ini dan Masa Mendatang

Tantangan dan Peluang SDM Pertanian saat ini dan Masa Mendatang
Hj Henny Pratiwi SP MM

Oleh: Hj Henny Pratiwi SP MM

KLIKSUMUT.COM – Tantangan dan peluang SDM (Sumber Daya Manusia) di bidang pertanian saat ini dan masa mendatang meliputi keterbatasan lahan, perubahan iklim, rendahnya daya saing produk pertanian, kurangnya regenerasi petani, keterbatasan akses teknologi dan lainnya. Di masa depan, tantangan akan semakin kompleks dengan adanya peningkatan populasi, perubahan iklim yang lebih ekstrem, dan kebutuhan akan pangan yang lebih besar.

Bacaan Lainnya

Berikut adalah detail tantangan SDM pertanian:
Tantangan saat ini:
1. Keterbatasan Lahan: Luas lahan pertanian yang semakin menyempit akibat alih fungsi lahan ke perumahan dan industri, serta kerusakan lahan akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.
2. Perubahan Iklim: Perubahan iklim berdampak pada pola cuaca, kekeringan, banjir, dan serangan hama penyakit, yang mengancam hasil panen.
3. Daya Saing Produk Pertanian Rendah: Produk pertanian Indonesia masih belum mampu bersaing di pasar internasional karena kualitasnya yang belum optimal, serta rendahnya pengetahuan petani tentang teknologi pertanian modern.
4. Kurangnya Regenerasi Petani: Mayoritas petani di Indonesia adalah orang tua, sementara generasi muda kurang tertarik pada sektor pertanian, yang menyebabkan ketidakpastian keberlanjutan pertanian di masa depan.
5. Keterbatasan Akses Teknologi: Akses terhadap internet dan teknologi pertanian modern, seperti sistem informasi pertanian dan mesin pertanian, masih belum merata, terutama di daerah pedesaan.
6. Kemiskinan di Kalangan Petani: Kemiskinan menjadi penghambat utama bagi petani dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing mereka.
7. Manajemen Usaha Tani yang Rendah: Rendahnya pengetahuan petani tentang manajemen usahatani yang baik dan efisien, seperti perencanaan produksi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan, menyebabkan produktivitas yang rendah.

Tantangan di Masa Depan:
1. Peningkatan Populasi: Peningkatan populasi dunia dan Indonesia akan meningkatkan permintaan pangan, sehingga tantangan untuk meningkatkan produktivitas pertanian akan semakin besar.
2. Perubahan Iklim yang lebih Ekstrem: Perubahan iklim yang lebih ekstrem, seperti kekeringan yang lebih parah, banjir yang lebih luas, dan serangan hama penyakit yang lebih merusak, akan semakin mengancam hasil panen.
3. Kebutuhan Pangan yang lebih Besar: Peningkatan permintaan pangan akan mendorong peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga akan menyebabkan tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan.
4. Perubahan Teknologi yang Cepat: Perkembangan teknologi pertanian yang cepat akan menciptakan tantangan bagi petani untuk beradaptasi dengan teknologi baru, seperti drone, pertanian pintar, dan genetika tanaman.
5. Persaingan Pasar yang Semakin Ketat: Persaingan pasar global yang semakin ketat akan menuntut petani untuk meningkatkan kualitas produk pertanian mereka dan mengembangkan inovasi baru.
6. Tantangan Lingkungan: Polusi dan kerusakan lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta deforestasi, akan semakin menjadi masalah serius bagi keberlanjutan pertanian.

BACA JUGA:Dampak Tren Paylater: Antara Kemudahan dan Risiko Utang di Era Digital

Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan petani sendiri. Pemerintah perlu memberikan dukungan kebijakan yang tepat, seperti penyediaan infrastruktur, bantuan modal, dan pelatihan bagi petani.

Lembaga pendidikan perlu mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan sektor pertanian. Dunia usaha perlu berinovasi dalam teknologi dan produk pertanian, serta menjalin kemitraan dengan petani. Petani perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, serta mengembangkan praktik pertanian yang berkelanjutan.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas SDM petani yaitu program penyuluhan petani, program pembinaan petani, program pengenalan dan pelatihan penerapan teknologi baru, dan program bantuan sosial kepada petani.

Alasan generasi muda khususnya Gen Z tidak ingin menjadi petani adalah karena tidak ada pengembangan karir, penuh risiko, pendapatan kecil, tidak dihargai, dan tidak menjanjikan (cnbcindonesia, 2022). Keterbatasan terhadap modal, teknologi, dan sumber daya manusia yang terampil

Cara Menghadapi Tantangan
1. Percaya hasil positif. Orang-orang yang memanfaatkan kesulitan menjadi peluang akan membuat mereka melangkah berani, memiliki keterampilan, dukungan, dan sumber daya untuk mencapai keberhasilan yang dituju atau yang diinginkan.
2. Terus Belajar dan Mengembangkan Keterampilan. Pendidikan seumur hidup adalah gagasan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada titik tertentu dalam kehidupan, melainkan merupakan upaya berkelanjutan. Terus belajar dan mengembangkan keterampilan sangat penting, baik untuk pengembangan pribadi maupun profesional, serta untuk menghadapi perubahan zaman yang dinamis.
3. Terus Belajar dan Beradaptasi. Peluang SDM pertanian di masa depan sangat menjanjikan, terutama dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan akan pangan yang berkelanjutan. Untuk menarik minat petani milenial menjadi “petani gurem” (dengan skala kecil tetapi efisien), perlu dilakukan pendekatan yang inovatif dan berorientasi pada hasil, seperti memberikan akses teknologi modern, pendidikan, dan dukungan finansial yang memadai.

Peluang SDM Pertanian yang akan Datang:
1. Pertanian Cerdas (Smart Farming): Pemanfaatan teknologi seperti sensor, drone, dan AI untuk mengoptimalkan proses pertanian, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi risiko gagal panen.
2. Pertanian Organik dan Berkelanjutan: Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk pertanian yang aman dan ramah lingkungan, membuka peluang bagi petani organik dan praktik pertanian berkelanjutan.
3. Agroindustri dan Agroekowisata: Pengembangan produk olahan pertanian (misalnya, produk makanan atau minuman) dan pengembangan agrowisata untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja.
4. Penerapan Teknologi Digital: Pemanfaatan media sosial, platform online, dan aplikasi mobile untuk pemasaran produk, akses informasi, dan pelatihan petani.

Cara Agar Petani Milenial Tertarik Menjadi “Petani Gurem”:
1. Inovasi dan Teknologi:
Pelatihan Pertanian Modern: Memberikan pelatihan tentang teknologi pertanian terbaru, seperti smart farming, hidroponik, dan pertanian organik.
Akses Teknologi: Menyediakan akses yang mudah dan terjangkau terhadap teknologi pertanian, seperti alat-alat pertanian canggih, bibit unggul, dan pupuk berkualitas.
2. Dukungan Finansial:
Modal Usaha: Membantu petani milenial mendapatkan akses ke modal usaha yang terjangkau melalui program-program pemerintah, lembaga keuangan, atau investor swasta.
Subsidi dan Insentif: Memberikan subsidi atau insentif khusus untuk petani milenial yang berani mencoba teknologi baru atau mengembangkan usaha pertanian yang inovatif.

BACA JUGA: Masa Depan Sumatera Utara di Tangan Bobby Nasution: Pemimpin Visioner Pilgub Sumut 2024

3. Pendidikan dan Pelatihan:
Pelatihan Kewirausahaan: Memberikan pelatihan kewirausahaan untuk membantu petani milenial mengembangkan keterampilan dalam mengelola bisnis, pemasaran, dan keuangan.
Pembinaan dan Pendampingan: Memberikan pembinaan dan pendampingan dari ahli pertanian atau kelompok petani yang berpengalaman.
4. Infrastruktur dan Pasar:
Pengembangan Infrastruktur: Membangun infrastruktur pertanian yang memadai, seperti jalan, irigasi, dan gudang penyimpanan, untuk mempermudah akses ke pasar.
Peningkatan Akses Pasar: Membantu petani milenial dalam memasarkan produk mereka melalui berbagai saluran, seperti pasar lokal, pasar online, atau ekspor.
5. Perubahan Persepsi:
Menghilangkan Stereotip: Mengubah persepsi bahwa pertanian hanya cocok untuk orang tua atau tidak menjanjikan dengan menunjukkan contoh sukses petani milenial dan peluang ekonomi yang ada di sektor ini.
Memperkenalkan Pertanian Modern: Menjelaskan manfaat pertanian modern, seperti efisiensi, produktivitas, dan pendapatan yang lebih tinggi.

Dengan pendekatan yang komprehensif dan inovatif, sektor pertanian dapat menarik lebih banyak petani milenial untuk menjadi “petani gurem” yang sukses dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional. Sesuai dengan program pak presiden mencapai ketahanan pangan dan kedaulatan pangan nasional semoga generasi muda sekarang dan yang akan datang mengembangkan dan sustainable pertanian terus menerus secara kontinue ucap Henny Pratiwi jangan lagi ada konversi lahan ke perumahan tapi lahan yang ada harus dijaga dan dikembangkan sehingga menghasilkan tanaman yang bermanfaat untuk jangka panjang. (KSC)

Penulis:
Dosen Politeknik LP3I Medan dan Ketua ACSB Regional Sumut 2025-2027

Pos terkait