Pesawat Garuda Indonesia Berputar 4,5 Jam di Udara India Akibat Uji Coba Rudal, Penerbangan Jeddah-Medan Molor hingga 12 Jam

Antre 7 Tahun untuk Dapat Pesawat Baru: Danantara Suntik Dana Rp6,65 Triliun Sehatkan Garuda Indonesia
ANTRE 7 TAHUN: Managing Director Stakeholders Management and Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas menyebutkan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk diperkirakan baru bisa mendapatkan pesawat baru paling cepat tujuh tahun ke depan. (FOTO: Dok. garuda-indonesia.com/Ist)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Maskapai nasional Garuda Indonesia mengalami insiden penerbangan tak biasa ketika salah satu pesawatnya harus berputar-putar di udara selama sekitar 4,5 jam di wilayah India akibat penutupan ruang udara terkait uji coba rudal militer.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 8 Mei 2026 dalam penerbangan GA4208 rute Jeddah, Arab Saudi menuju Medan, Sumatera Utara. Pesawat yang digunakan dalam penerbangan itu adalah Airbus A330-900neo.

Berdasarkan laporan yang beredar, penerbangan yang normalnya ditempuh sekitar delapan jam itu justru memakan waktu hingga 12 jam 39 menit. Situasi ini langsung menarik perhatian publik dan pengamat penerbangan internasional karena dinilai sangat langka terjadi dalam operasional penerbangan komersial modern.

BACA JUGA: Garuda Indonesia Masih Bahas Rencana Pembelian Pesawat Boeing

Pada awal perjalanan, pesawat terbang normal melintasi wilayah Arab Saudi, Oman hingga Laut Arab. Namun saat memasuki kawasan selatan India, pesawat mendadak masuk ke pola holding atau holding pattern, yakni prosedur penerbangan berupa putaran di udara sambil menunggu izin melanjutkan perjalanan.

Dalam dunia aviasi, holding pattern biasanya dilakukan karena antrean lalu lintas udara, cuaca buruk, maupun kondisi darurat tertentu. Namun yang mengejutkan, pesawat Garuda Indonesia tersebut bertahan dalam pola putaran selama sekitar 4,5 jam.

Penutupan sebagian besar ruang udara di sekitar Teluk Benggala disebut menjadi penyebab utama insiden tersebut. Pemerintah India diketahui menutup area udara tertentu guna mendukung uji coba rudal jarak jauh Agni-6 milik militer India.

Kondisi ini membuat pesawat kesulitan mencari jalur alternatif yang lebih singkat untuk melanjutkan penerbangan menuju Indonesia. Luasnya area ruang udara yang ditutup menyebabkan opsi pengalihan rute menjadi sangat terbatas.

Sejumlah pengamat penerbangan menilai situasi tersebut cukup tidak biasa karena maskapai umumnya tidak membawa cadangan bahan bakar dalam jumlah sangat besar akibat tingginya biaya avtur. Karena itu, muncul spekulasi bahwa pihak operasional Garuda Indonesia kemungkinan sudah mengetahui potensi penutupan ruang udara tersebut sebelum keberangkatan sehingga menyiapkan tambahan bahan bakar sebagai langkah antisipasi.

BACA JUGA: Garuda Indonesia dan Stakeholder Bandara Kualanamu Minta Maaf atas Insiden Salah Tangkap Ketua DPW NasDem Sumut

Selain itu, ada dugaan maskapai awalnya berharap pesawat masih dapat melintasi wilayah tersebut sebelum penutupan diberlakukan, namun tetap menyiapkan skenario terburuk jika harus melakukan holding dalam waktu lama.

Sebagian analis penerbangan juga menilai bahwa apabila informasi penutupan ruang udara sudah diprediksi sejak awal, penundaan jadwal keberangkatan bisa menjadi opsi yang lebih efisien dibanding membiarkan pesawat terus berputar di udara selama berjam-jam.

Insiden ini pun disebut-sebut sebagai salah satu holding pattern terlama yang pernah dialami penerbangan komersial modern dan menjadi perhatian komunitas aviasi internasional. (KSC)

Pos terkait