Selanjutnya, kelima, pelatih tetap merujuk pada program latihan yang sudah ada, sehingga tidak ada satupun program latihan yang tertinggal. Pengetatan pada program latihan demi meraih prestasi harus dilakukan.
“Atlet yang dilatih ini harus memiliki kurikulum latihan yang grafiknya meningkat. Vo2Max dan kemampuan tubuhnya, serta teknik bertanding dengan rangkaian latihan yang sudah disusun harus tercapai. Bila perlu melebih target yang sudah ditentukan,” terangnya.,
BACA JUGA: Wali Kota Medan Tinjau Vaksinasi Atlet
“Pencapaian target latihan ini bisa diukur dengan cara mereka diuji dengan berlari pada kecepatan tertentu dengan waktu yang sudah ditentukan. Selanjutnya, diuji dengan cara memukul samsak dengan jumlah pukulan tertentu. Lalu, dalam porsi latihan, mereka bisa push up dan sit up dengan jumlah waktu serta jumlah capaian yang sudah ditentukan,” sambung Romain.
Keenam, diperlukan juga kerjasama dengan KONI Sumut untuk membantu memfasilitasi terkait anggaran dana sehingga dana yang dibutuhkan terkait konsumsi dan vitamin bisa terpenuhi. Karena ketahanan tubuh saat berlatih sangat dipengaruhi oleh asupan vitamin dan makanan yang dikonsumsi.
“Para orang tua dan pengurus juga masih bisa melihat anak-anaknya berlatih karena seminggu dua kali kami menyiarkan langsung latihan para atlet. Ini semua dilakukan agar pencapaian para atlet di PON Papua nanti bisa tercapai, yakni minimal bisa membawa pulang dua medali emas,” tutup Romain. (BNL)








