“Sejak awal klaster PTM sudah menjadi kekhawatiran kami. Guru memang sudah divaksinasi semua, lantas bagaimana dengan siswanya, sekarang mungkin baru 50 persen divaksin. Itu vaksinasi yang SMP maupun SMA. Bagaimana dengan siswa SD, usia 12 tahun ke bawah belum ada vaksin? Penegakam prokes di sekolah juga harus ketat”, ungkap Joko.
Joko menambahkan kejujuran sekolah, wali murid dan murid menjadi penentu dalam memgantisipasi klaster COVID di sekolah.
“Kalau memang ada guru, murid, atau wali murid yang sakit ya jangan diperbolehkan masuk ke sekolah. Nanti bisa menular ke yang lain. Kalau terjadi klaster COVID di sekolah ya dihentikan sementara aktivitas PTM dan bisa dilanjutkan lagi saat sudah selesai masa isolasi atau penyembuhan”, jelas Joko.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim pada Senin (13/9) sempat melihat langsung aktifitas sekolah dan kampus di Solo yang menggelar PTM. Nadiem menilai PTM sekolah di daerah level 1 hingga 3 PPKM bisa dibuka dengan syarat prokes ketat.
BACA JUGA: Pelanggaran Sekolah Tatap Muka Saat PPKM, Lapor COVID-19 Terima Puluhan Aduan
“Kita sangat mendukung pemda-pemda yang kini daerahnya di level 1 – 3 mendorong Sekolah Tatap Muka terbatas dan vaksinasi pelajar dengan penerapan protokol kesehatan ketat,” jelas Nadiem.
Dampak Kejiwaan Sekolah Online
Lebih jauh Nadiem Makariem mengingatkan dampak sekolah online terhadap siswa, keluarga, dan nasib generasi mendatang.
“Dampaknya kalau kita tidak bergerak cepat sekarang, kehilangan lost of learning yang bisa permanen. Kesehatan mental dan psikis permanen di jiwa anak-anak. Merasa kesepian, mengalami konflik di dalam keluarga, menjadi a sosial, dan dampak permanen lainnya. Apalagi untuk anak yang sedang berkembang. Jadi PTM sekolah itu suatu risiko yang harus ditanggapi. Nggak banyak yang melihat resiko generasi mendatang seperti apa,” pungkas Nadiem.
Profesor Joko Nurkamto menegaskan pembelajaran metode tatap muka (luring) masih tetap yang terbaik dibanding daring atau online.
Lebih lanjut Joko mengingatkan sekolah online masih banyak kekurangan. Peralatan, Koneksi internet, Guru yang mumpuni dalam teknologi, adaptasi sekolah menjadi serangkaian daftar menjalankan pembelajaran online.
“Pernasalahannya pada kualitas materi pembelajaran online. Guru membuat rekaman video di internet kemudian murid mengakses dan mengerjakan tugas, guru memberi nilai, hanya itu saja. Pendampingan personal pemahaman pada siswa tidak ada. Beda jika pembelajaran di kelas,” ungkap Joko. (voa)








