Parade Hujan: Perjalanan Band Indie Indonesia dari Payung Teduh hingga Kembali Bersama Is

Parade Hujan: Perjalanan Band Indie Indonesia dari Payung Teduh hingga Kembali Bersama Is
Parade Hujan, yang sebelumnya dikenal dengan nama Payung Teduh, merupakan salah satu grup musik alternatif/indie Indonesia yang sukses menghadirkan warna musik khas perpaduan folk, keroncong, dan jazz.

KLIKSUMUT.COM – Parade Hujan, yang sebelumnya dikenal dengan nama Payung Teduh, merupakan salah satu grup musik alternatif/indie Indonesia yang sukses menghadirkan warna musik khas perpaduan folk, keroncong, dan jazz. Band ini dikenal luas lewat lagu-lagu puitis yang melekat di hati penikmat musik Indonesia.

Nama Payung Teduh mulai dikenal sejak terbentuk pada akhir tahun 2007 dengan formasi awal Mohammad Istiqamah Djamad atau Is sebagai vokalis dan gitaris, serta Comi sebagai pemain kontra bass. Pada tahun 2008, grup ini berkembang dengan bergabungnya Cito sebagai drummer, serta Ivan yang memainkan gitarlele dan terompet.

Lagu “Angin Pujaan Hujan” menjadi karya pertama yang memperlihatkan karakter musik khas mereka. Seiring waktu, Payung Teduh terus melahirkan lagu-lagu yang mendapat tempat di hati para pendengar, terutama kalangan anak muda.

Popularitas Payung Teduh semakin meningkat di industri musik nasional berkat lagu-lagu bernuansa romantis dan puitis seperti “Kucari Kamu”, “Berdua Saja”, “Menuju Senja”, “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan”, hingga “Akad”.

Selain itu, mereka juga dikenal lewat karya-karya hasil kolaborasi pementasan teater bersama Catur Ari Wibowo seperti “Resah”, “Cerita Tentang Gunung dan Laut”, serta lagu karya Amalia Puri berjudul “Tidurlah” dan “Malam”.

Karakter musik Payung Teduh dikenal unik karena memadukan nuansa musik era 1960-an dengan sentuhan keroncong dan jazz modern. Band ini juga menegaskan bahwa musik mereka tidak dibatasi oleh satu genre tertentu.

Pada penghujung tahun 2010, Payung Teduh resmi merilis album indie pertama mereka. Kesuksesan tersebut berlanjut ketika mereka merilis album studio kedua bertajuk “Dunia Batas” pada tahun 2013 di bawah label Ivy League Music.

Album “Dunia Batas” berisi delapan lagu populer, di antaranya:

Bacaan Lainnya
  • Berdua Saja
  • Menuju Senja
  • Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
  • Rahasia
  • Angin Pujaan Hujan
  • Di Ujung Malam
  • Resah
  • Biarkan

BACA JUGA: Padi Reborn, Bukti Eksistensi Band Legendaris Indonesia di Industri Musik Tanah Air

Album tersebut kemudian dirilis dalam format digital dan kaset edisi terbatas yang hanya diproduksi sebanyak 300 keping dalam acara Record Store Day Indonesia tahun 2015.

Pada tahun yang sama, Payung Teduh juga merilis lagu “Masa Kecilku”, lalu disusul album “Live and Loud” pada tahun 2016 yang menghadirkan versi live dari sejumlah lagu hits mereka.

Tahun 2017 menjadi salah satu puncak popularitas Payung Teduh setelah merilis single “Akad” dan album “Ruang Tunggu”. Lagu “Akad” sukses viral di media sosial dan banyak di-cover oleh musisi maupun pengguna internet karena liriknya yang sederhana namun menyentuh.

Namun di tengah popularitas tersebut, Mohammad Istiqamah Djamad (Is) memutuskan keluar dari Payung Teduh pada akhir tahun 2017 karena merasa sudah tidak lagi sejalan dengan grup band tersebut.

Keputusan hengkangnya Is sempat mengejutkan para penggemar, mengingat sosoknya sangat identik dengan karakter musik dan vokal khas Payung Teduh.

Pada akhir tahun 2022, Is memutuskan kembali bergabung dengan band yang telah membesarkan namanya. Bersamaan dengan itu, Payung Teduh resmi berganti nama menjadi Parade Hujan.

Pergantian nama tersebut menandai babak baru perjalanan mereka di industri musik Indonesia tanpa meninggalkan identitas musikal yang sudah dikenal luas oleh para penggemar.

Meski sempat mengalami perubahan formasi, Parade Hujan tetap konsisten menghadirkan karya musik dengan nuansa syahdu, puitis, dan khas yang menjadi ciri utama mereka sejak awal terbentuk.

BACA JUGA: Pakarock: Supergrup Rock Legendaris Indonesia yang Satukan Ahmad Albar, Ikang Fawzi, dan Nicky Astria

Setelah ditinggal Is, Payung Teduh tetap aktif berkarya. Pada akhir tahun 2018, mereka merilis single “Sebuah Lagu” yang menjadi soundtrack film animasi Disney “Wreck-It Ralph 2” yang tayang pada awal 2019.

Pencapaian tersebut menjadikan Payung Teduh sebagai salah satu grup musik asal Asia Tenggara pertama yang dipercaya mengisi soundtrack original film Disney.

Kini, melalui nama baru Parade Hujan, band ini terus melanjutkan perjalanan musik mereka dan tetap menjadi salah satu ikon musik indie Indonesia yang memiliki tempat khusus di hati penikmat musik Tanah Air. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait