Pakar: Vaksin Masih Efektif Lawan COVID-19 Parah

Vaksin Virus
Konsorsium Penelitian dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi RI memperkirakan perlu setidaknya Rp26,4 triliun untuk memproduksi vaksin Covid-19. (Foto: ilustrasi).

AMERIKA | kliksumut.com Dengan melonjaknya varian delta, berbagai laporan menunjukkan bahwa sebagian orang yang telah divaksinasi masih terinfeksi virus COVID-19. Tetapi infeksi tersebut kebanyakan ringan. Semua vaksin masih bekerja paling baik diukur dari apa pun, kata Bill Powderly, pakar kesehatan dan direktur Institut Kesehatan Masyarakat di Washington University, St. Louis, Missouri.

“Vaksin-vaksin itu sangat efektif dalam melakukan apa yang kita inginkan, yaitu melindungi orang dari penyakit serius dan kematian,” ujar Powderly dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com.

Sejumlah infeksi di Israel baru-baru ini menimbulkan kekhawatiran bahwa beberapa vaksin lebih lemah terhadap varian delta. Tetapi, Bill Powderly mengatakan vaksin itu mencegah kasus terburuk, seperti yang ditunjukkan oleh lonjakan di negara bagian Missouri.

“Mereka menyaksikan terjadinya infeksi seperti yang dilihat orang Israel, pada orang-orang yang telah divaksinasi. Tetapi, tidak ada di antara mereka yang terinfeksi itu masuk rumah sakit. Semua rawat inap, dan sayangnya, semua kematian, terjadi pada orang yang belum divaksinasi,” imbuhnya.

BACA JUGA: Kejar 70% Vaksinasi di Sumut, Gubernur Sumut Minta Masyarakat ‘Jemput Bola’

Beberapa vaksin lebih baik daripada yang lain dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Vaksin mRNA dari Moderna dan Pfizer secara umum tampaknya menghasilkan antibodi paling banyak, diikuti oleh vaksin vektor virus: Johnson & Johnson, vaksin Oxford University-AstraZeneca dan Sputnik V.

Vaksin yang menggunakan virus yang dilemahkan seperti Sinovac dan Sinopharm dari Tiongkok berada di ujung bawah skala kemanjuran.

Pos terkait