Semua vaksin menghasilkan antibodi yang cukup untuk melawan strain asli, tetapi tingkat antibodi berperan lebih penting terhadap varian-varian baru, kata Peter Openshaw, guru besar kedokteran di Imperial College London dalam wawancara. “Mungkin dengan vaksin yang sedikit kurang kuat yang tidak menginduksi respon imun yang cukup kuat, agen delta mulai menerobos, tapi masih memberi perlindungan terhadap penyakit yang lebih parah.”
Dan vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneca, Johnson & Johnson dan Sputnik V semuanya lebih baik daripada Sinopharm dan Sinovac dalam mengaktifkan garis pertahanan kedua tubuh, yang disebut sel T, seperti dijelaskan oleh Deborah Fuller, pakar vaksin di University of Washington, Seattle, Washington, dalam wawancara dengan VOA.
BACA JUGA: 3 Juta Dosis Vaksin Moderna Tiba di Jakarta Sebagai Komitmen AS kepada Indonesia
“Vaksin yang mampu menginduksi respons imun cadangan, seperti respons sel T, akan memberi perlindungan yang lebih baik terhadap beragam varian virus, daripada vaksin dari virus tidak aktif yang hanya menginduksi antibodi,” kata Fuller.
“Saya mendengar orang-orang mendapat vaksin, dan mereka berkata, ‘Yah, saya tidak akan pernah mau divaksin lagi karena tetap saja saya jatuh sakit.’ Dan tanggapan saya selalu: Anda tahu? Anda akan jauh lebih menderita sakit, kemungkinan masuk rumah sakit, jika Anda tidak divaksin.”
Dan, katanya, semua vaksin membantu memperlambat penyebaran virus, yang berarti lebih sedikit peluang bagi varian berbahaya untuk berkembang. (voaindonesia.com)








