Navicula: Band Grunge Asal Bali yang Mendunia dan Aktif dalam Isu Lingkungan

Navicula: Band Grunge Asal Bali yang Mendunia dan Aktif dalam Isu Lingkungan
Mengenal Navicula, band grunge asal Bali dengan aktivisme lingkungan. Simak sejarah, personel, perjalanan karier, hingga kiprah internasional mereka.

KLIKSUMUT.COM – Nama Navicula bukan sekadar grup musik biasa di kancah musik Indonesia. Band asal Bali ini dikenal luas tidak hanya karena warna musik grunge yang khas, tetapi juga karena konsistensinya dalam menyuarakan isu sosial dan lingkungan.

Dijuluki “The Green Grunge Gentlemen”, Navicula berhasil memadukan musik keras dengan pesan-pesan kritis yang relevan dengan kondisi global, menjadikan mereka salah satu band independen paling berpengaruh dari Indonesia.

Navicula saat ini diperkuat oleh Gede Robi Supriyanto (vokal dan gitar), Dadang Pranoto (gitar), Supriatmoko (drum), dan Krishnanda Adipurba (bass).

Musik mereka berakar dari grunge, namun berkembang dengan sentuhan folk rock, rock psikedelis, funk, blues hingga punk. Keunikan ini diperkuat dengan pengaruh budaya Bali yang kental dalam karya-karyanya.

Sebelumnya, posisi bass diisi oleh Made Indra Dwi Putra yang meninggal dunia pada 2018 akibat kecelakaan. Sementara posisi drum pernah diisi oleh Gembull Rai yang hengkang pada 2017.

Nama “Navicula” diambil dari istilah biologi yang merujuk pada ganggang bersel satu, sekaligus berarti “kapal kecil” dalam bahasa Latin. Nama ini ditemukan oleh Robi saat masih duduk di bangku sekolah menengah.

BACA JUGA: Perjalanan Panjang Band Naff: Dari Era Keemasan hingga Formasi Terbaru

Navicula terbentuk pada tahun 1996 saat para personelnya masih duduk di bangku SMA. Seiring waktu, mereka berkembang menjadi band dengan reputasi internasional.

Bacaan Lainnya

Mereka sempat bekerja sama dengan Sony BMG dalam album “Alkemis”. Namun, pada album berikutnya “Beautiful Rebel” (2007), Navicula memilih jalur independen.

Salah satu pencapaian penting mereka adalah kemenangan video klip “Metropolutant” dalam ajang RØDE Rockumentary tahun 2012, mengalahkan ratusan peserta dari puluhan negara. Kemenangan ini membuka jalan tur ke Amerika Serikat dan Kanada.

Tak hanya itu, Navicula juga tampil di berbagai panggung internasional, termasuk Sydney Festival serta tur di Eropa dan Australia.

Navicula dikenal sebagai band yang aktif dalam gerakan sosial. Mereka terlibat dalam aksi Bali Tolak Reklamasi bersama sejumlah musisi Bali lainnya, menolak proyek reklamasi di Tanjung Benoa.

Selain itu, mereka juga tergabung dalam gerakan Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan yang menentang regulasi kontroversial di industri musik.

Bentuk kritik mereka juga dituangkan dalam lagu seperti “Dagelan Penipu Rakyat” yang menyuarakan keresahan terhadap kebijakan publik.

BACA JUGA: Naif: Perjalanan Legendaris dari Kampus IKJ hingga Ikon Musik Retro Indonesia

Kehilangan besar terjadi pada 26 Maret 2018 ketika Made Indra meninggal dunia akibat kecelakaan. Setahun kemudian, Navicula menggelar konser “Tribute to Made Indra” di Bali sebagai bentuk penghormatan.

Hingga kini, Navicula tetap konsisten berkarya dan menyuarakan isu-isu penting melalui musik. Dengan identitas kuat sebagai band independen dan aktivis, mereka berhasil membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

Navicula membuktikan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga alat perubahan sosial yang kuat. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait