“Sekarang kami menghidupkan kembali kehidupan mahasiswa. Kehidupan mahasiswa tidak hanya belajar di dalam ruang kuliah, tetapi kehidupan mahasiswa jauh lebih luas dari itu,” tambah dia.
Sementara itu, mahasiswa AUC Ali Abul-fadl mengungkapkan perasaannya mengenai pembukaan kembali kampus itu.
“Meskipun saya telah belajar di universitas selama setahun, tetapi hari ini saya merasa seolah-olah ini adalah hari pertama saya di universitas. Ini adalah pertama kalinya saya mengalami kehidupan universitas yang sesungguhnya dengan berbagai kegiatan,” tuturnya.
BACA JUGA: Pelanggaran Sekolah Tatap Muka Saat PPKM, Lapor COVID-19 Terima Puluhan Aduan
Sekitar 20 juta siswa yang terdaftar di semua sekolah dan universitas di seluruh Mesir terpengaruh oleh pembatasan terkait virus corona.
Nada Mousa, juga mahasiswa AUC, adalah salah seorang di antaranya.
“Saya rindu kuliah. Saya rindu bekerja di laboratorium dengan menggunakan tangan. Terus terang, pendidikan online sangat membosankan dan tidak ada interaksi sama sekali,” kata Mousa.
“Perasaan itu jauh lebih baik daripada belajar dari rumah. Ini adalah perasaan semangat dan perasaan lingkungan itu sendiri. Kita bisa berhadapan langsung dengan profesor dan kita bisa berinteraksi satu sama lain sebagai mahasiswa dan mengenal orang-orang baru,” tambah mahasiswa AUC lainnya, Nayera El-tabakh.
Pada Maret tahun lalu, pemerintah Mesir menutup semua sekolah dan universitas dan sejak itu pembelajaran diberikan secara virtual.
Namun sebelum studi dimulai tahun ini, pemerintah menginstruksikan agar semua siswa dan staf sekolah dan universitas divaksinasi COVID-19. (voa)








