KLIKSUMUT.COM | JAMBI – Kota Jambi saat ini dinilai tengah berada dalam kondisi darurat penipuan yang menyasar para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya pemilik dan penjaga toko 24 jam yang kian menjamur di berbagai sudut kota.
Fenomena maraknya toko kelontong 24 jam yang dikenal masyarakat sebagai “toko Madura” justru dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melancarkan berbagai aksi penipuan dengan modus yang terus berkembang.
Para pelaku disebut berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk mencari korban. Jika gagal di satu tempat, mereka dengan mudah berpindah ke lokasi lain dan mengulangi aksinya.
BACA JUGA: Mengungkap Misteri Candi Solok Sipin di Jambi: Jejak Peradaban Hindu-Buddha yang Terlupakan
Santi, salah satu pedagang di Jambi Timur, mengungkapkan bahwa salah satu modus yang sering terjadi adalah penipuan transfer palsu.
“Pelaku pura-pura sudah transfer Rp500 ribu, tapi setelah dicek hanya masuk Rp500 saja. Kalau kita lengah dan tidak cek, bisa saja uang Rp500 ribu kita serahkan,” ujarnya.
Ketika aksinya ketahuan, pelaku langsung melarikan diri dan kembali mencari korban lain. Bahkan, menurut Santi, pelaku tak segan kembali ke lokasi yang sama di waktu berbeda.
Selain itu, modus salah kembalian juga kerap terjadi. Pelaku mengaku memberikan uang Rp100 ribu, padahal hanya Rp10 ribu. Situasi toko yang ramai dan kurangnya pengecekan membuat penjaga toko menjadi sasaran empuk.
“Kalau kita bilang mau cek CCTV, mereka langsung kabur,” tambahnya.
Modus lain yang juga marak adalah berpura-pura lupa membawa uang. Pelaku biasanya meminta pengisian saldo dompet digital, lalu berpura-pura mengambil uang ke kendaraan atau rumah, namun akhirnya kabur tanpa membayar.
Tak hanya itu, aksi terorganisir juga mulai muncul. Dalam satu kejadian, pelaku datang berkelompok, berpura-pura berbelanja berbagai barang. Saat penjaga lengah, salah satu dari mereka membawa kabur barang belanjaan yang sudah dikumpulkan.
Peredaran uang palsu juga masih menjadi ancaman serius, terutama saat toko dalam kondisi ramai atau penjaga dalam keadaan lelah.
“Kadang kita sudah tidak fokus membedakan uang asli dan palsu,” kata Santi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ada pula modus pengancaman dengan mengaku sebagai warga setempat atau membawa nama oknum aparat untuk meminta “uang keamanan” atau diskon barang.
Modus terbaru yang tengah marak adalah berpura-pura mengenal pemilik toko. Pelaku meminta nomor telepon, lalu melakukan panggilan palsu seolah-olah berkomunikasi dengan pemilik. Dengan cara ini, mereka meyakinkan penjaga toko untuk memberikan uang atau barang.
Salah satu kejadian terbaru terjadi di kawasan Handil pada Jumat (24/4/2024) sekitar pukul 19.00 WIB. Pelaku berhasil memperdaya penjaga toko dengan modus tersebut hingga menyebabkan kerugian jutaan rupiah.
Penipuan baru terungkap setelah pergantian shift kerja, ketika diketahui bahwa transaksi tersebut tidak pernah mendapat persetujuan dari pemilik toko.
Rosmin, tokoh senior di kalangan pelaku UMKM, berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Seharusnya pemerintah dan kepolisian melindungi kami. Pelaku ini tidak jera, bahkan wajahnya sudah tersebar di media sosial tapi masih berani beraksi,” tegasnya.
BACA JUGA: Lonjakan Pengunjung Padati Wisata Kampung Raja Jambi di H+3 Lebaran 2026
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan UMKM, khususnya toko 24 jam, memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, mulai dari membuka lapangan kerja hingga memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Senada dengan itu, Ali, pedagang lainnya, menduga faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab maraknya kejahatan ini.
“Mungkin karena malas bekerja, atau angka pengangguran tinggi. Bisa juga karena sudah terbiasa dapat uang dengan cara cepat,” ujarnya.
Para pelaku UMKM kini hanya berharap satu hal sederhana: keamanan dalam menjalankan usaha mereka di tengah meningkatnya ancaman kejahatan. (KSC)
Reporter: Dalil Harahap





