IHSG Anjlok 10,76% ke Level 5.233, Ini 15 Saham yang Tetap Menguat

Saham Hari Ini 18 September 2026: IHSG Berpeluang Menguat, Investor Cermati Sejumlah Saham
Ilustrasi grafik saham ( klikdumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan sesi pertama Jumat (16/10/2026). IHSG anjlok 10,76% ke level 5.233 di tengah tekanan jual yang melanda pasar saham Indonesia.

Di tengah pelemahan indeks tersebut, hanya 15 saham yang tercatat menguat. Sementara itu, berdasarkan data IDNFinancials.com yang menjadi acuan laporan ini, sebanyak 809 saham mengalami kenaikan harga dan tiga saham stagnan. Angka tersebut perlu dicermati kembali karena jumlah saham yang menguat tidak selaras dengan total saham yang disebutkan.

Sejumlah saham berhasil bertahan di zona hijau ketika mayoritas saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan. Di antaranya adalah PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) dari Grup Salim dan PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) dari Grup Lippo.

Saham DNET naik 2,33% ke level Rp9.900 per lembar, sedangkan saham LPGI menguat 2,44% menjadi Rp630 per lembar.

BACA JUGA: Saham Hari Ini 24 Oktober 2026: IHSG Menguat 0,95%, Tembus Level 5.439, Saham Ini Jadi Sorotan

Di antara 15 saham yang menguat, PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) mencatat kenaikan persentase tertinggi, yakni 25% ke level Rp5.625 per lembar.

Posisi berikutnya ditempati PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA), yang melonjak 24,93% ke level Rp4.710 per lembar.

Kenaikan kedua saham tersebut menjadi sorotan karena terjadi ketika IHSG justru mengalami koreksi tajam. Meski demikian, penguatan harga saham secara individual tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi pasar secara keseluruhan telah membaik.

Bacaan Lainnya

Investor tetap perlu memperhatikan likuiditas, volatilitas, keterbukaan informasi, serta faktor fundamental masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi penurunan saham-saham berkapitalisasi pasar besar, termasuk sektor perbankan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun 13,99% pada sesi pertama. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 12,26% dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 8,54%.

Penurunan saham-saham unggulan tersebut menjadi perhatian karena pergerakan emiten berkapitalisasi besar dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja IHSG.

Kondisi pasar yang bergejolak juga menjadi pengingat bagi investor untuk tidak hanya berpatokan pada pergerakan indeks, tetapi turut mengevaluasi risiko dan prospek setiap saham dalam portofolio.

Berikut daftar saham yang dilaporkan tetap menguat pada perdagangan sesi pertama Jumat (16/10):

1. PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) – naik 25%.
2. PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) – naik 24,93%.
3. PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) – naik 24,81%.
4. PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) – naik 20,72%.
5. PT Charnic Capital Tbk (NICK) – naik 13,04%.
6. PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) – naik 8,11%.
7. PT Global Sukses Solusi Tbk (RUNS) – naik 4,55%.
8. PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) – naik 2,44%.
9. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) – naik 2,33%.
10. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) – naik 1,54%.
11. PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) – naik 0,61%.
12. PT Siantar Top Tbk (STTP) – naik 0,56%.
13. PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) – naik 0,41%.
14. PT Kino Indonesia Tbk (KINO) – naik 0,36%.
15. PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) – naik 0,23%.

BACA JUGA: Saham Hari Ini Jumat 23 Oktober 2026: IHSG Dibuka Menguat, Investor Cermati Peluang dan Risiko Pasar

Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar

Anjloknya IHSG hingga dua digit dalam satu sesi menunjukkan tingginya tekanan dan volatilitas di pasar saham. Dalam situasi seperti ini, investor perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, serta kondisi fundamental perusahaan sebelum melakukan transaksi.

Kenaikan sejumlah saham di tengah koreksi tajam IHSG juga perlu dianalisis secara cermat. Pergerakan harga dalam satu sesi perdagangan belum cukup untuk memastikan keberlanjutan tren kenaikan.

Investor disarankan memantau pengumuman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), keterbukaan informasi emiten, dan perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan. (KSC)

Pos terkait