KLIKSUMUT.COM – Nama Hellcrust bukanlah pemain baru di kancah musik cadas Tanah Air. Sejak digagas pada 24 September 2011, band death metal asal Jakarta ini terus menunjukkan eksistensi dan konsistensinya lewat karya-karya brutal yang sarat kritik sosial. Dibentuk oleh Bije, Wiro, dan Andyan Gorust, Hellcrust menjelma menjadi salah satu unit death metal yang diperhitungkan di Indonesia.
Di bawah naungan Armstretch Records, Hellcrust telah merilis tiga album termasuk satu mini album—serta satu single yang mempertegas karakter musikal mereka: teknikal, cepat, padat, namun tetap catchy dan anthemic.
Cikal bakal Hellcrust berawal dari sebuah event yang menghadirkan band death metal asal Amerika, Misery Index. Dari sana, Wiro dan Bije terpicu untuk membentuk proyek musik dengan pendekatan serupa. Mereka kemudian menggandeng Andyan Gorust untuk langsung menggarap materi rekaman.
Formasi awal diperkuat Ario (Carnivored) dan Bonny, eks personel Thrashline, Tengkorak, dan Deadsquad. Dengan pengalaman lintas band, termasuk keterlibatan sejumlah personel di Siksakubur, Hellcrust dibangun dengan fondasi manajemen yang matang dan visi jangka panjang. Basis penggemar mereka pun dikenal solid dengan sebutan “Balamaut.”
Logo Hellcrust sendiri merupakan hasil sayembara yang dimenangkan oleh M. Asrul dari Makassar, mempertegas identitas visual band yang gelap dan agresif.
Pada 12 Juni 2012, Hellcrust merilis mini album perdana bertajuk Dosa. EP ini berisi lima lagu: “Agresi Semu”, “Budak Kehidupan”, “Doktrinisasi Karat”, “Jerat Ilusi”, dan “Hitam Dunia”.
Proses rekaman dilakukan dalam waktu singkat—hanya sembilan hari—di BeeSound Studio, dengan mixing oleh Joseph Manurung di Blessing Studio. Artwork digarap oleh Mark Cooper dari Mindrape Art (Amerika Serikat).
Mini album ini menjadi fondasi awal karakter Hellcrust: riff agresif, blast beat intens, serta lirik penuh kritik sosial.
Puncak pengakuan publik datang lewat album penuh kedua, Kalamaut, yang dirilis 16 Januari 2016. Album ini resmi diluncurkan di Kemang, Jakarta, pada 20 Februari 2016, disambut antusias musisi, media, metalhead, dan para Balamaut.
Bertema kritik sosial, Kalamaut menampilkan 10 track termasuk intro “Kalamaut”. Lagu-lagu seperti “Janji Api”, “Pancung Suara”, hingga “Bingkai Bangkai” menjadi bukti kedewasaan musikal mereka.
BACA JUGA: Harmony Chinese Music Group: Harmoni Musik Tionghoa-Indonesia yang Mendunia Sejak 2001
Prestasi gemilang diraih saat Kalamaut memenangkan kategori Album of The Year di ajang Hammersonic Metal Awards 2016, bagian dari rangkaian Hammersonic Festival—festival metal terbesar di Asia Tenggara.
Album ini juga masuk daftar 10 Album Metal Terbaik versi WarningMagz, mempertegas posisi Hellcrust sebagai kekuatan baru death metal Indonesia.
Pada Maret 2019, Hellcrust merilis single “Rimba Khalayak”, yang menyoroti fenomena media sosial: isu SARA, eksploitasi, hoaks, hingga kebebasan berpendapat yang kebablasan.
Single ini menjadi fase transisi menuju album berikutnya, sekaligus karya dengan format single guitar setelah hengkangnya Baken. Materi digarap di Three Sixty Studio, Jakarta, dengan pendekatan musikal yang lebih tajam dan teknikal.
Album ketiga, Sejawat, resmi dirilis 27 Juni 2020. Kata “Sejawat” dimaknai sebagai keluarga besar yang merangkul semua pihak—baik tim di balik layar maupun para penggemar setia.
Album ini memuat 10 lagu, termasuk “Rimba Khalayak” dan track penghormatan berjudul “Balamaut.” Awalnya dijadwalkan rilis April 2020, peluncuran harus ditunda akibat pandemi COVID-19.
Sebagai bentuk apresiasi kepada penggemar, Hellcrust menggelar konser virtual bertajuk “Wave of Sejawat” pada 14 Agustus 2020 melalui kanal YouTube resmi mereka—menjadi konser daring perdana dalam sejarah band.
Perjalanan Hellcrust tidak lepas dari dinamika pergantian personel. Pada 2022, dalam ajang “Rockaroma Showcase” bersama Burgerkill dan Closehead, diumumkan perubahan formasi: posisi vokal diambil alih Derik, sementara Donirro Hayashi (Vox Mortis) masuk sebagai bassis menggantikan Alan.
Meski silih berganti personel, komitmen Hellcrust tetap sama: menjaga integritas musikal, soliditas internal, dan kedekatan dengan Balamaut.
Lebih dari satu dekade berkarya, Hellcrust membuktikan bahwa pengalaman, manajemen matang, serta visi kolektif mampu menjaga eksistensi band death metal di tengah dinamika industri musik.
BACA JUGA: HALFMATH: Reuni Eks Funky Kopral Hadirkan Energi Baru Funk Rock Indonesia
Dengan tiga album studio, satu EP, satu single, serta penghargaan bergengsi, Hellcrust menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan death metal Indonesia yang terus relevan—baik di panggung nasional maupun regional Asia Tenggara.
Bagi para penikmat musik ekstrem, Hellcrust bukan sekadar band. Mereka adalah representasi konsistensi, perlawanan, dan solidaritas dalam satu dentuman: Balamaut. (KSC)
TIM REDAKSI





