KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Pameran fotografi “Prahara Pulau Emas” memasuki hari kedua dengan suasana berbeda. Digelar di Atrium Utara Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026), pameran yang awalnya menghadirkan rangkaian foto bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu berubah menjadi ruang belajar terbuka tentang kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.
Kegiatan yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan bersama sejumlah mitra pendukung tersebut tidak hanya menyuguhkan foto jurnalistik tentang banjir bandang dan longsor. Panitia juga menghadirkan coach clinic dan diskusi mitigasi bencana dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang serta pengalaman langsung dari Aceh Tamiang.
Akademisi UMSU, Dr. Muhammad Said Harahap, M.I.Kom, menilai foto jurnalistik memiliki peran penting dalam memberikan gambaran faktual kepada masyarakat saat bencana terjadi.
“Pameran ini diadakan sebagai edukasi kepada khalayak ramai bahwa kejadian sebenarnya adalah seperti yang kami alami. Kami bekerja untuk meminimalisir berita hoaks terhadap suatu bencana,” ujarnya.
Menurut Said, masyarakat, khususnya generasi muda, harus memiliki kemampuan memilah informasi ketika bencana terjadi. Hal itu penting karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang memiliki potensi bencana tektonik maupun vulkanik.
“Kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini agar masyarakat paham risiko dan tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.
Ia menilai edukasi kebencanaan perlu diperkenalkan sejak usia sekolah, termasuk kepada Generasi Alpha, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga mampu menjadi penyebar informasi yang benar.
Penata BPBD Kota Medan, Muhammad Yamin Daulay, S.E., mengawali diskusi dengan pesan yang sederhana namun penuh makna.
“Bencana tidak mengenal kalender dan tidak mengenal orang,” tegas Yamin.
Ia menjelaskan, mitigasi bencana merupakan berbagai upaya untuk mengurangi risiko, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kapasitas masyarakat.
Karena itu, Yamin mengajak mahasiswa dan siswa yang hadir untuk mengenali rambu serta jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal, kampus, sekolah maupun pusat keramaian.
“Pengetahuan sederhana soal jalur evakuasi bisa jadi penentu hidup dan mati,” ujarnya.
Selain memahami jalur evakuasi, masyarakat juga diminta menyiapkan emergency box atau tas siaga yang berisi dokumen penting, senter, perlengkapan P3K dan obat-obatan.
Perlengkapan tersebut sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau sehingga dapat segera dibawa ketika proses evakuasi harus dilakukan.
Kepala Dinas Damkarmat Kota Medan, Wandro Abadi Agnellus Malau, mengatakan tugas petugas pemadam kebakaran saat ini tidak sebatas menangani kebakaran.
Menurutnya, petugas juga memiliki peran dalam berbagai kegiatan penyelamatan masyarakat.
“Tugas kami yang utama adalah penyelamatan berbagai aspek. Terkadang kami juga menerima penyelamatan hal-hal kecil di masyarakat. Tapi semuanya butuh sinergi lintas instansi agar korban bisa segera diselamatkan,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan bencana membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petugas penyelamat, relawan, masyarakat, hingga berbagai lembaga lainnya.
Diskusi semakin menarik ketika Kak Ama, relawan dari Sekolah Inspirasi Bangsa, membagikan pengalaman langsung saat banjir bandang menerjang Desa Lintang Bawah, Aceh Tamiang.
Dalam situasi darurat tersebut, ia terlebih dahulu berupaya menyelamatkan orang tua dan keluarganya. Setelah memastikan keluarganya berada dalam kondisi aman, ia kemudian turun membantu warga lainnya yang membutuhkan pertolongan.
Pengalaman itu memberikan gambaran bahwa di tengah bencana, masyarakat harus mengambil keputusan dalam waktu sangat singkat.
“Di balik setiap foto ada manusia dengan ketakutan, keberanian, dan keputusan yang harus diambil dalam detik,” ungkapnya.
Cerita tersebut membuat peserta tidak hanya melihat foto sebagai karya visual, tetapi juga memahami kisah kemanusiaan yang berada di balik setiap jepretan.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari pengelola Plaza Medan Fair.
Lenny Yun Manalu, Marcom Manager Plaza Medan Fair, mengatakan pihaknya tidak hanya memandang pusat perbelanjaan sebagai tempat kegiatan ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat.
“Kami juga berupaya membantu masyarakat Aceh Tamiang yang terkena bencana. Para tenant dan karyawan kami koordinasikan untuk menyalurkan bantuan,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari kepedulian bersama terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Coach clinic dan diskusi Prahara Pulau Emas turut diikuti generasi muda dari berbagai institusi pendidikan. Peserta di antaranya berasal dari UMSU, USU, UISU, Universitas Syiah Kuala, serta siswa SMK Negeri 9 dan SMK Muhammadiyah 8.
Mereka aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan kebencanaan, mulai dari jalur evakuasi, persiapan tas siaga bencana hingga cara memverifikasi informasi agar tidak ikut menyebarkan kabar palsu saat terjadi bencana.
BACA JUGA: HUT ke-81 RI di Medan Perjuangan Meriah, Darwin Iskandar Gelar Hiburan Rakyat Bersama Warga
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa edukasi kebencanaan masih sangat dibutuhkan, terutama bagi generasi muda yang kelak menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat tangguh bencana.
Hari kedua pameran “Prahara Pulau Emas” akhirnya tidak sekadar menjadi ruang untuk melihat foto-foto bencana. Lebih dari itu, pameran tersebut menjadi ruang edukasi yang mempertemukan fotografi, literasi informasi, mitigasi bencana dan kemanusiaan.
Deretan foto banjir bandang dan longsor memang menyayat hati. Namun, di balik setiap visual tersimpan pesan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah bencana terjadi.
Kesiapan harus dimulai jauh sebelum bencana datang.
Pameran fotografi “Prahara Pulau Emas” masih berlangsung hingga Jumat, 21 Agustus 2026, di Atrium Utara Plaza Medan Fair dan terbuka gratis untuk masyarakat umum. (KSC)








