KLIKSUMUT.COM | ACEH SELATAN – Panggung utama Festival Debus Aceh Selatan 2025 di Alun-alun Kota Tapaktuan, milik Eka Yuli dan Tek Dang, Senin (15/9/2025) malam. Dua perempuan tangguh asuhan Sanggar Paleut Aulia ini, sukses memukau ratusan pasang mata dengan aksi yang nyaris membuat jantung copot! Betapa tidak, keduanya memamerkan atraksi menusuk perut dan menyayat lengan dengan belati hingga membuat penonton menahan nafas.
Semula atraksi berlangsung pelan. Eka hanya mengakat belati ke atas, kemudian mengibaskannya ke udara beberapa kali seiring dengan tabuhan gendang. Detik berikutnya, belati meluncur deras ke arah perut. Penonton menjerit ngeri!
Gemuruh penonton kian terdengar saat Eka menekan paksa belati pada perut, kemudian mumutar keras ujung belati sekuat tenaga hingga otot tangannya terlihat menyembul, namun belati seolah enggan menancap.
BACA JUGA: Ketua PWI Ditusuk Belati di Malam Pembukaan Festival Rapa’i Debus 2025 Tapaktuan
Tek Dang, rekan satu sanggar Eka, tak kalah seram. Ia menyayat lengannya dengan belati, seolah membuat kelaran pada ikan sebelum panggang. Aksi Tek Dang ini tak kalah menakutkan hingga membuat penonton menutup mata.
Atraksi debus umumnya diperagakan kaum pria. Namun bagi dua perempuan Aceh ini, debus punya daya tarik tersendiri.
“Jangan bilang perempuan Aceh Selatan, kalau tidak berani berdebus,” ucapnya lantang di atas panggung hingga memecah riuh tepuk tangan penonton.
BACA JUGA: HUT RI ke-80, TNI dan Rakyat Bersatu Lewat Lomba Tradisional di Binjai
Atraksi Debus Perempuan: Simbol Keberanian dan Warisan Budaya
Debus, seni bela diri tradisional yang kerap melibatkan aksi kekebalan tubuh dan keberanian ekstrem, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Aceh. Namun, kehadiran perempuan di atas panggung debus masih menjadi pemandangan langka, dan justru itulah yang membuat penampilan Tek Dang dan Eka Yuli begitu menggugah.
Festival Debus Aceh Selatan 2025 tak hanya menampilkan aksi kekebalan tubuh atau pertunjukan seni semata. Ini adalah panggung bagi identitas, keberanian, dan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Dalam festival ini, perempuan Aceh Selatan membuktikan bahwa keberanian dan kecintaan terhadap budaya tak mengenal batas gender.
“Ini bukan soal gender, tapi soal semangat untuk melestarikan budaya,” kata Eka Yuli saat ditemui usai tampil.
Antusiasme Sanggar dari Berbagai Penjuru Aceh Selatan
Ketua Panitia Festival Debus Aceh Selatan 2025, Teuku Muhassibi mengatakan, festival dimulai sejak tanggal 12 hingga 19 September 2025, dengan penampilan atraksi debus setiap malam. Setiap sanggar membawa ciri khas masing-masing, menjanjikan pertunjukan yang berbeda dan menggugah rasa bangga akan kekayaan budaya lokal.
“Masyarakat bisa menikmati pertunjukan yang beragam. Ini bukan sekadar hiburan, tapi momentum penting untuk mengenalkan dan melestarikan budaya leluhur kita,” tambah Muhassibi.
BACA JUGA: Tradisi Paskah Subuh “Buha Buha Ijuk” Meriahkan Ibadah Jemaat HKBP Lae Mbulan di Dairi
Aceh Selatan, Rumah bagi 45 Sanggar Debus Aktif
Menurut data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Aceh Selatan memiliki sekitar 45 sanggar debus aktif yang tersebar di berbagai kecamatan, dari Meukek, Sawang, Samadua, Tapaktuan, Pasie Raja, Kluet Raya, hingga Bakongan dan Trumon.
“Debus masih tumbuh subur di tengah masyarakat. Tugas kita sekarang adalah menjaga, mengembangkan, dan mewariskannya kepada generasi muda,” tegas Muhassibi. (KSC)
REPORTER: Dahyati








