Ketua PWI Ditusuk Belati di Malam Pembukaan Festival Rapa’i Debus 2025 Tapaktuan

Ketua PWI “Ditusuk” Belati di Malam Pembukaan Festival Rapa'i Debus 2025 Tapaktuan
TUSUK KETUA PWI: Aksi ekstrem Ketua PWI Tapaktuan ditusuk menggunakan belati dalam Festival Rapa'i Debus 2025 ddi Alun-alun Tapaktuan, Selasa (9/9/2025) malam. (FOTO: Dahyati)

KLIKSUMUT.COM | TAPAKTUAN – Malam pembukaan Festival Rapa’i Debus 2025 di Alun-alun Tapaktuan berlangsung penuh kejutan sekaligus mencekam. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Selatan, Yunardi M.Is, terkapar di atas panggung setelah “ditusuk” belati oleh salah seorang panitia, T. Muhasibi.

Peristiwa itu sontak membuat ribuan pasang mata pengunjung yang hadir, terbelalak seketika. Suasana yang sebelumnya riauh berganti hening. Penonton mematung dalam diam!

BACA JUGA: Pertahankan dan lestarikan Nilai Budaya, Bersama UAS Bupati Asahan Resmikan Replika Rumah Besar Tuan Syech Silau

Aneh, Yunardi mengaku tidak merasakan sakit sedikit pun. Hanya seperti kulit tertekan suatu benda. Itu saja! Tidak lebih!

Tanpa darah, apalagi raung kesakitan!

“Seperti ada kekebalan dalam diri saya. Tidak terasa sakit sama sekali,” ujar Yunardi sambil tertawa usai pertunjukan.

BACA JUGA: Syukuran Setengah Abad: Datuk Taruna Buana Sakti Diraja Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Melayu

Atraksi Debus: Antara Seni, Spiritualitas, dan Kepercayaan Diri
Festival ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan. Aksi seperti yang dilakukan Yunardi adalah bagian dari pertunjukan seni bela diri tradisional khas Aceh, yakni Debus, yang dikenal dengan unsur spiritual dan kemampuan kebal terhadap benda tajam.

Bacaan Lainnya

Penampilan pembuka malam itu dipersembahkan oleh Sanggar Naga Sakti dari Paya Ateuk, yang memukau penonton dengan atraksi memukau, penuh semangat, dan nuansa mistis.

BACA JUGA: Diwarnai Budaya Musik dan Tari Toba, Gempita HUT ke- 80 RI di Delipark Mall Memukau Ratusan Pengunjung

Komitmen Pelestarian Budaya dari Pemerintah Daerah
Festival yang dibuka secara resmi oleh Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan, ini merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Kabupaten dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal.

“Kegiatan ini adalah implementasi kepedulian kami terhadap pentingnya melestarikan nilai-nilai seni budaya. Ini adalah identitas dan ciri khas Aceh Selatan yang harus terus kita jaga,” kata Bupati dalam sambutannya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap bangga dengan budaya sendiri, terutama di tengah gempuran teknologi dan budaya asing yang kian masif.

“Jangan sampai budaya asing memudarkan jati diri kita. Kesenian seperti rapa’i dan debus harus terus kita kenalkan kepada generasi muda,” tambahnya.

BACA JUGA: Lestarikan Adat Budaya dan Cerminkan Kebersamaan, Horja Godang Boru Markabuatan Wali Kota Sidempuan

Ratusan Peserta dari Puluhan Sanggar Seni Tradisi
Festival Rapa’i Debus 2025 ini diikuti oleh puluhan sanggar seni dari berbagai kecamatan di Aceh Selatan. Tidak hanya menampilkan atraksi debus, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi budaya dan promosi wisata daerah. Sejumlah pejabat turut hadir, mulai dari unsur Forkopimda, Kepala SKPK, hingga tokoh-tokoh adat dan masyarakat setempat.

BACA JUGA: Hari Terakhir Revalidasi, Asesor Terkesan Melihat Peninggalan Gunung Toba dari Material Hingga Budaya

Potensi Wisata Budaya yang Perlu Diangkat Lebih Luas
Dengan keunikan atraksi dan antusiasme masyarakat yang tinggi, Festival Rapa’i Debus berpotensi besar menjadi agenda tahunan berskala nasional. Selain sebagai pelestarian budaya, event ini juga menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal lebih dalam kearifan lokal Aceh Selatan. (KSC)

REPORTER: Dahyati

Pos terkait