KLIKSUMUT.COM – Nama Djiwo bukanlah hal asing bagi penikmat musik ekstrem Tanah Air. Grup musik black metal asal Surakarta, Jawa Tengah ini telah menorehkan perjalanan panjang sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2013, dengan membawa identitas musikal, visual, dan filosofi yang kuat berakar pada nilai Nusantara.
Djiwo dimotori oleh Dewadji Ratriarkha bersama Fancy Burn. Nama Djiwo sendiri bermakna “Jiwa” atau “Soul”, yang ditulis menggunakan aksen ejaan lama, sebagai penegasan karakter dan spirit yang diusung sejak awal. Dalam setiap penampilannya, Djiwo tampil khas dengan topeng kepala dan tengkorak, sembari menyebut diri mereka sebagai Garda Bhirawa Nusantara Black Metal.
Pada 17 Agustus 2014, Djiwo resmi merilis album debut berjudul “Cakra Bhirawa” di bawah naungan Persetan Records. Album ini dirilis sangat terbatas, hanya 500 keping CD, menjadikannya buruan kolektor skena underground. Bersamaan dengan perilisan album, Djiwo juga meluncurkan video klip lagu “Cakra Bhirawa” yang mempertegas konsep visual gelap dan simbolik.
Kesuksesan album ini berlanjut pada tahun 2015, ketika “Cakra Bhirawa” kembali dirilis dalam format kaset melalui label Hitam Kelam Records, memperluas distribusi di kalangan penggemar musik ekstrem.
BACA JUGA: Band D.O.T, Grup Legendaris Era 90-an dengan Lagu Hits “Jangan-Jangan”
Masih di tahun 2015, tepatnya 28 Juli, Djiwo merilis video dokumenter bertajuk “Pamurba Yatmaka Cakra Bhirawa”. Dokumenter berdurasi sekitar 40 menit ini menjadi panduan mendalam untuk memahami album “Cakra Bhirawa”.
Dalam dokumenter tersebut, vokalis Dewadji Ratriarkha menjabarkan kembali storytelling di balik setiap lagu. Video ini diproduseri oleh The Anarcho Brothers dan disutradarai oleh Kamerad Edmond, yang sebelumnya dikenal lewat film dokumenter Superglad Rock Together (2012) serta seri Rock in Solo.
Pada 6 Juni 2016, Djiwo kembali merilis video klip lagu “Ardum”, yang menunjukkan eksplorasi musikal serta kedewasaan konsep artistik mereka.
Kemudian, pada Desember 2017, Djiwo merilis demo independen berjudul “Dirgayvsa Satyawira (Unfinished Version)”, sebagai penanda fase transisi kreatif dalam perjalanan band.
Memasuki tahun 2022, Djiwo dengan formasi duo terbaru secara resmi mengubah haluan bermusik. Mereka kini mengusung genre Melodic Folk Raw Black Metal, dengan penambahan moniker baru ꦢ꧀ꦗꦶ “D” & ꦆ “I” sebagai penyaji utama.
Transformasi ini mencapai puncaknya pada 6 Juni 2023, pukul 06.00, saat Djiwo merilis album kedua bertajuk “Svvanantaka”. Album ini dirilis oleh Death Prayer Records (UK), menandai langkah penting Djiwo dalam menembus kancah black metal internasional.
Dengan perjalanan lebih dari satu dekade, Djiwo tetap konsisten membawa identitas Nusantara, baik melalui lirik, simbol, maupun konsep musikal. Dari Surakarta hingga Inggris, Djiwo membuktikan bahwa black metal Indonesia memiliki jiwa, karakter, dan daya saing global. (KSC)
TIM REDAKSI








