KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Di sebuah aula sederhana di Jalan Gurilla No. 44, Kelurahan Sei Kera Hilir I, Kecamatan Medan Perjuangan, Senin (27/7/2026), puluhan warga duduk menyimak setiap kalimat yang disampaikan narasumber. Tak ada alat kesehatan canggih, tak ada resep mahal. Yang dibahas justru sesuatu yang sering terlupakan: bagaimana menjaga tubuh tetap sehat melalui kebiasaan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang serba instan, kegiatan Sosialisasi Pola Hidup Sehat itu menjadi pengingat bahwa kesehatan sesungguhnya berawal dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Acara yang digagas Datok Agung bersama Kejeruan Metar Bilad Deli, UMKM Naik Level, dan kolaborasi Gen Z Medan Perjuangan tersebut menghadirkan berbagai elemen masyarakat. Hadir pula Lurah Sei Kera Hilir I Ahmad Fauzi Nasution yang mengajak warga memulai perubahan dari diri sendiri.
Menurutnya, menjaga kesehatan bukan hanya soal makanan bergizi atau olahraga, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengelola pikirannya.
“Pola hidup sehat itu sebenarnya sederhana. Dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi, semuanya bergantung kepada diri kita sendiri. Yang pertama jangan stres, terutama terhadap diri sendiri,” ujar Ahmad Fauzi di hadapan peserta.
Suasana semakin hidup ketika Ayu Zhafira Amalia Kynbraten, Finalis Miss Norway, mulai berbagi pandangan. Ia tidak berbicara tentang tren kecantikan atau gaya hidup glamor, melainkan mengajak masyarakat melihat perubahan pola hidup yang kini terjadi hampir di setiap rumah.
Menurut Ayu, kemajuan teknologi memang membuat hidup lebih praktis. Hanya dengan telepon genggam, makanan dapat tiba di depan pintu dalam hitungan menit. Namun di balik kemudahan itu, masyarakat sering kali tidak mengetahui bagaimana makanan tersebut diproses maupun kualitas bahan yang digunakan.
BACA JUGA: Irfan Ramadhan Terpilih Aklamasi Pimpin Pemuda Pancasila Sei Kera Hulu Periode 2026–2028
“Sekarang masyarakat lebih sering memesan makanan. Semuanya terasa praktis. Tetapi kita sering tidak tahu bagaimana makanan itu diolah, dari bahan apa dibuat, dan apa saja kandungannya. Karena itu masyarakat perlu kembali memahami pentingnya pola hidup sehat,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa tubuh bukan sekadar membutuhkan makanan yang mengenyangkan, tetapi juga asupan yang benar, waktu istirahat yang cukup, aktivitas fisik, serta pikiran yang tenang.
“Olahraga secukupnya, makan tidak berlebihan, istirahat yang cukup, semuanya harus seimbang. Kalau itu dijalankan, insya Allah tubuh akan tetap sehat,” katanya.
Bagi Datok Agung, sosialisasi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia melihat fenomena meningkatnya penyakit seperti diabetes hingga gagal ginjal yang kini mulai menyerang usia muda sebagai sesuatu yang harus segera disikapi bersama.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi makanan instan, minuman tinggi gula, serta minimnya aktivitas fisik menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Ia berharap generasi muda, khususnya Gen Z, mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan membiasakan pola hidup sehat dan mengajak keluarga melakukan hal yang sama.
“Apa yang disampaikan Ibu Ayu sebenarnya sederhana, tetapi memang tidak mudah dijalankan. Tantangan terbesar adalah bagaimana kita tidak dikendalikan oleh kebiasaan buruk. Jadilah orang yang mengendalikan gaya hidupnya, bukan sebaliknya,” ujar Datok Agung.
Di penghujung kegiatan, pesan yang tertinggal bukan sekadar pentingnya olahraga atau mengurangi makanan cepat saji. Lebih dari itu, masyarakat diajak menyadari bahwa kesehatan adalah investasi yang dimulai dari hal-hal sederhana: bangun lebih pagi, bergerak lebih banyak, mengurangi stres, memilih makanan yang lebih sehat, serta memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat.
Di era ketika segala sesuatu dapat diperoleh secara instan, sosialisasi di sudut Kota Medan itu mengingatkan kembali bahwa tidak ada jalan pintas untuk memiliki tubuh yang sehat. Sebab, kesehatan tetap dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan disiplin setiap hari. (KSC)
REPORTER: Bayu







