KLIKSUMUT.COM – Nama Captain Jack Band pernah menjadi salah satu ikon penting dalam perkembangan musik alternative rock Indonesia pada awal 2000-an. Band yang terbentuk di Kota Yogyakarta pada 4 Desember 1999 ini dikenal dengan karakter musik yang keras, kritis, dan sarat pesan sosial.
Captain Jack digawangi oleh lima personel awal, yakni Mohammad Dhani Febriadi (Momo) sebagai vokalis dan gitaris, Zuhdil Herry (Sanco) pada gitar, Novan Maltuvanie pada bass, Surya Ismeth pada keyboard dan synth, serta Andi Babon di posisi drum. Meski dikenal sebagai band Yogyakarta, seluruh personelnya sejatinya berasal dari Pontianak dan hijrah ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan.
Sejak awal kemunculannya, Captain Jack dikenal sebagai band dengan eksplorasi genre yang luas. Musik mereka memadukan rock alternatif, heavy metal, punk, grunge, hingga elektronika, menjadikan Captain Jack memiliki warna musik yang unik dan berbeda di antara band-band sezamannya.
Eksplorasi tersebut tertuang dalam deretan rilisan mereka, mulai dari Unmindless (EP, 2003), Some Think About (2005), The Fall of Concept (EP, 2008), Self Titled (2012), hingga CJ#17 (EP).
Nama Captain Jack semakin dikenal luas setelah merilis lagu “Sempurna”, yang berhasil merajai tangga lagu berbagai radio di Yogyakarta, Pontianak, dan sejumlah kota lainnya. Lagu ini merupakan bagian dari album Some Think About (2005) yang dirilis di bawah naungan Universal Music Indonesia.
Kesuksesan lagu tersebut mengukuhkan Captain Jack sebagai salah satu band independen yang berhasil menembus industri musik arus utama.
Pada 12 Oktober 2012, Captain Jack merilis album keempat bertajuk Self Titled. Album ini diperkenalkan melalui single “Kupu Kupu Baja”, disusul lagu “Tak Ada yang Datang” pada Maret 2013.
Menariknya, peluncuran album ini dilakukan dengan konsep direct selling di tiga kota sekaligus: Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Dalam album ini, Captain Jack juga menyisipkan berbagai kampanye sosial, seperti kritik terhadap budaya patriarki, penolakan terhadap narkoba dan minuman beralkohol, serta isu perburuhan yang dinilai semakin mengarah pada eksploitasi.
Di balik musikalitasnya, Captain Jack juga dikenal lewat perlengkapan musik khas para personelnya. Momo menggunakan gitar Schecter V1 Gary Holt Signature, sementara Novan Maltuvanie mengandalkan Custom Bass by SP Guitars dan G&L L2000 USA, dipadukan dengan amplifier Ampeg Portaflex. Surya Ismeth setia menggunakan Roland Juno D1, dan Zuhdil (Sanco) memiliki gitar Riverside yang menjadi hadiah undian merchandise Captain Jack.
Tahun 2016 menjadi titik balik bagi Captain Jack. Tiga personel utamanya, Momo, Ismeth, dan Zuhdil, memutuskan keluar dari band. Momo menyebut adanya perbedaan visi dan penyimpangan genre, Ismeth karena masalah pribadi, sementara alasan keluarnya Zuhdil tidak pernah dijelaskan secara terbuka.
Sebelum berpisah, ketiganya meninggalkan lagu “Home Sweet Hell” (2015) yang disebut sebagai “surat wasiat” untuk Captain Jack. Keputusan ini mengecewakan banyak Monster Jackers, sebutan bagi penggemar setia band ini.
Pasca keluar dari Captain Jack, Momo membentuk proyek baru bernama Momo dan Parabiru dengan nuansa musik yang lebih condong ke jazz, meski tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh penggemar lama.
Terlepas dari berbagai dinamika internal dan perubahan formasi, Captain Jack Band tetap dikenang sebagai salah satu band alternative rock paling berpengaruh dari Yogyakarta. Musik, lirik, serta sikap kritis mereka meninggalkan jejak kuat di skena musik independen Indonesia dan di hati para Monster Jackers hingga hari ini. (KSC)
TIM REDAKSI








