Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi US$110.000, Nilai Setara Rp1,8 Miliar! Apa Penyebab Lonjakan Dahsyat Ini?

Tembus $100.000, Analis Tidak Lagi Anggap Bitcoin 'Asing'
Pelanggan berdiri di toko pertukaran mata uang kripto setelah Bitcoin melonjak di atas $100.000, di Hong Kong, China, 5 Desember 2024. (Tyrone Siu/REUTERS)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Dunia kripto kembali geger! Bitcoin (BTC) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) dengan menembus level US$110.636/BTC atau sekitar Rp1,8 miliar per keping (kurs US$1 = Rp16.390) dalam perdagangan intraday hari ini. Meski akhirnya sedikit terkoreksi, Bitcoin tetap diperdagangkan tinggi di angka US$109.621, naik 1,26% dibandingkan hari sebelumnya.

Menurut data Refinitiv, lonjakan ini mengalahkan rekor sebelumnya yang tercatat pada 20 Januari 2025 di level US$109.071.

BACA JUGA: Jumlah Investor Kripto RI Tembus 13,71 Juta per Maret 2025, Diproyeksi Capai 28 Juta Akhir Tahun

Faktor-Faktor Pemicu Kenaikan Drastis Harga Bitcoin

Menurut Antoni Trenchev, salah satu pendiri bursa kripto Nexo, lonjakan harga Bitcoin kali ini didorong oleh kombinasi faktor ekonomi makro global.

“Kita menyaksikan dampak dari inflasi AS yang lebih rendah, redanya tensi perang dagang AS-China, serta pemangkasan peringkat utang AS oleh Moody’s. Semua ini memicu investor mencari store of value alternatif seperti Bitcoin,” ujarnya, dikutip dari CNBC International.

Trenchev menambahkan bahwa kondisi pasar global saat ini sangat berbeda dibandingkan awal April lalu, saat Bitcoin sempat anjlok ke level US$74.000 akibat gejolak makroekonomi.

Lonjakan Inflow ETF Jadi Mesin Pendorong Harga

Sentimen pasar yang positif juga tercermin dari arus masuk (inflow) yang tinggi ke produk ETF Bitcoin Spot. Data dari Farside Investors menunjukkan bahwa sejak pertama kali diluncurkan pada Januari 2024, total inflow ke ETF ini telah mencapai US$42,7 miliar atau sekitar Rp700 triliun.

Beberapa ETF seperti IBIT milik BlackRock mencatat inflow signifikan yang berkontribusi besar terhadap lonjakan harga. Menurut analis, masuknya dana besar dari institusi melalui ETF memberikan likuiditas tinggi, mengurangi tekanan jual, dan memperkuat tren bullish.

Data On-Chain Dukung Sentimen Positif

Data dari CryptoQuant mengonfirmasi bahwa tekanan jual terhadap BTC menurun, tercermin dari penurunan arus masuk BTC ke bursa serta kenaikan likuiditas pasar yang ditandai oleh jumlah stablecoin Tether (USDT) yang mencapai rekor baru.

Sementara itu, data dari SoSoValue mengungkapkan bahwa Bitcoin mencatat kenaikan 15% selama bulan Mei, hanya mengalami arus keluar ETF selama dua hari dalam sebulan terakhir.

Aset Kripto Jadi Primadona Saat Ketidakpastian Menguat

Bitcoin tidak hanya mendapatkan dorongan dari ETF, tetapi juga dari kondisi pasar saham global yang memberikan ruang bagi aset berisiko untuk unjuk gigi. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran dan kebijakan tarif AS turut mendorong investor melirik safe haven alternatif seperti Bitcoin dan emas.

BACA JUGA: Bursa Bybit Kehilangan $1,5 Miliar dalam Peretasan Kripto Terbesar

Apa Artinya Bagi Investor?

Kenaikan Bitcoin ke level US$110.000 bukan hanya rekor harga, tetapi juga sinyal kuat bahwa minat investor terhadap aset digital ini makin besar. Sentimen positif, dukungan institusi melalui ETF, dan data on-chain yang sehat menunjukkan bahwa Bitcoin masih berada di jalur bullish.

Namun, investor juga diingatkan untuk tetap waspada karena volatilitas di pasar kripto masih sangat tinggi. Kenaikan harga yang cepat sering kali diikuti oleh koreksi tajam. (KSC)

Pos terkait