KLIKSUMUT.COM | KARO ~ Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Pertalite, Dexlite, dan Solar di Kota Berastagi semakin sulit ditemukan sejak bencana tanah longsor dan banjir bandang melanda beberapa wilayah di Sumatera Utara sepekan terakhir. Kondisi ini memicu antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Berastagi, tepatnya di kawasan Tugu Perjuangan, jantung kota Berastagi.
Pantauan wartawan Kliksumut.com pada Rabu (4/12), ratusan warga terlihat mengantre di sepanjang pintu masuk SPBU sejak pagi hingga malam hari. Antrean panjang ini juga membuat arus lalu lintas tersendat.
BACA JUGA: Antrean Mengular, Polres Sergai Amankan Pengendara Rebutan BBM di SPBU
Antrean Panjang, Warga Menanti Truk Tangki
Sulitnya mendapatkan BBM memaksa masyarakat menunggu kedatangan mobil tangki Pertamina yang membawa pasokan baru. Setiap kali truk pengangkut tiba, warga langsung berebut untuk memastikan mereka mendapat jatah bahan bakar.
Namun, pengaturan pembelian BBM di SPBU Berastagi terlihat tidak teratur. Banyak warga masih bebas membeli BBM menggunakan jeriken, sehingga memicu keluhan dari para pengemudi angkutan umum.
BACA JUGA: Pasca Banjir di Sumut, Antrean Panjang SPBU, Bengkel Sesak Kendaraan Mogok
Seorang sopir angkutan pedesaan yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa dirinya dan sopir lainnya sangat kesulitan mendapatkan BBM dalam seminggu terakhir.
“Kalau pun dapat, kami harus rela menunggu mulai dari waktu subuh hingga pagi,” ujarnya.
Ia berharap pihak SPBU mendahulukan pengemudi angkutan umum.
“Harapan kami para pengemudi, seharusnya pihak SPBU mendahulukan kami ketimbang yang membeli menggunakan derigen, karena kami harus beraktivitas mencari makan,” pungkasnya.
BACA JUGA: Polsek Aek Natas Pantau Kamtibmas dan Pendistribusian BBM di SPBU
Harga Eceran Melonjak
Selain kelangkaan di SPBU, penjual BBM eceran berbahan botol Aqua yang biasanya mudah ditemui, kini hampir tidak terlihat di warung-warung sekitar kota. Kondisi ini berbeda dengan sebelum terjadinya bencana banjir dan longsor yang melanda Sibolga, Aceh Tapsel, Taput, dan sejumlah daerah lain di Sumatera Utara.
Teger (48), seorang warga, mengakui kesulitan serupa. Ia menyebut harga Pertalite di tingkat pengecer melonjak drastis.
“Saat ini untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite di kota Berastagi sangat sulit. Kalaupun ada, pengecer menjualnya Rp30 ribu per botol Aqua besar, itu pun sulit bang,” ujarnya. (KSC)
REPORTER: Herman Harahap








