KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Banjir bandang dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kembali memunculkan dugaan kuat adanya praktik perambahan hutan atau illegal logging di kawasan hulu. Temuan kayu-kayu gelondongan yang terseret arus menjadi bukti awal terjadinya kerusakan hutan yang diduga menjadi pemicu utama bencana tersebut.
Bencana yang menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kota Sibolga, Tapanuli Utara (Taput), Humbang Hasundutan (Humbahas), hingga Tapanuli Selatan (Tapsel) ini tercatat menelan ratusan korban jiwa, sementara puluhan warga lain masih dinyatakan hilang. Sejumlah fasilitas umum seperti rumah, jembatan, sekolah, dan akses jalan rusak berat sehingga beberapa desa terisolir dan belum menerima bantuan secara maksimal.
Direktur Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Pol Rudi Rifani, menegaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki dugaan perambahan hutan yang diduga berkaitan langsung dengan bencana tersebut.
“Kita sudah membentuk tim untuk menyelidiki dugaan perambahan hutan di wilayah hulu,” tegas Rudi Rifani, Kamis (4/12/2025).
Selain fokus pada penegakan hukum, Polda Sumut juga menyalurkan bantuan kebutuhan pokok bagi warga terdampak, termasuk hingga ke wilayah Aceh Tamiang yang turut merasakan dampaknya.
Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut mulai melakukan investigasi intensif terhadap potensi aktivitas pembalakan liar. Berserakannya kayu gelondongan di lokasi banjir menjadi indikator penting rusaknya hutan di kawasan hulu.
“Tim sedang melakukan penyelidikan di hulu kawasan hutan. Kalau nantinya ditemukan bukti perambahan hutan, siapapun dia akan kita sikat,” tegasnya.
Penegakan hukum, menurutnya, akan dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk jika ditemukan keterlibatan pihak korporasi.
Saat ditanya lebih jauh, Rudi Rifani mengakui bahwa terdapat satu atau beberapa perusahaan yang kini masuk dalam radar penyelidikan, namun belum dapat dipublikasikan identitasnya.
“Tentunya ada perusahaan yang menjadi target penyelidikan kita, tapi belum bisa kita sampaikan,” ujarnya.
BACA JUGA: Viral Kayu Gelondongan Terbawa Banjir di Sumut
Banjir bandang dan longsor kali ini disebut sebagai salah satu bencana alam terbesar yang terjadi di Sumatera Utara dalam beberapa tahun terakhir. Banyak permukiman hanyut, akses jalan putus total, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Hingga kini, sejumlah daerah masih sulit dijangkau tim SAR dan relawan akibat tertutup material longsor.
Aktivis dan pemerhati lingkungan meminta agar penyelidikan dugaan ilegal logging dilakukan secara transparan, menyeluruh, dan tidak berhenti pada pelaku lapangan saja. Kerusakan hutan di Sumut telah menjadi masalah serius bertahun-tahun, yang jika tidak diatasi, akan memicu bencana serupa setiap musim hujan.
Masyarakat berharap, jika dugaan perambahan hutan terbukti, penegakan hukum benar-benar ditegakkan maksimal untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih fatal serta menghindari jatuhnya korban jiwa di masa mendatang. (KSC)
TIM REDAKSI





