“Kami di STFJ adalah sejumlah jurnalis yang concern pada isu-isu lingkungan. Harus ada publikasi yang baik terkait isu ini. Sehingga masyarakat perlahan bisa teredukasi. Bisa memahami pentingnya menjaga alam tetap lestari,” ungkapnya.
Rahmad pun berharap, STFJ bisa dilibatkan dalam pengungkapan berbagai kasus TSL yang ada. Sehingga para jurnalis bisa menggali narasi yang lebih dalam lagi terkait upaya pemberantasan perdagangan TSL.
Sementara itu, Kepala Balai Gakkum Wilayah Sumatera, Subhan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh STFJ dan YOSL-OIC. Subhan pun menilai pentingnya peran STFJ dalam mengawal isu-isu lingkungan.
BACA JUGA: Akibat Covid-19 Medan Zoo Ditutup, Makanan Satwa Kekurangan
“Kehadiran STFJ ini sangat baik. Ke depan kita bisa sama-sama bersinergi untuk mengawal kasus-kasus TSL,” ungkap Subhan.
Soal sinergi lintas lembaga ini, kata Subhan, sangat penting dilakukan untuk memburu aktor intelektual dalam suatu kasus. Belakangan, modus kejahatan TSL pun kian berkembang. Bahkan hingga pada pemanfaatan media sosial. Ini juga yang menjadi salah satu tantangan Gakkum dalam melakukan penindakan.
Dalam penanganan kasus, kata Subhan, pihaknya lebih memprioritaskan pada pengungkapan aktor intelektual. Sehingga bisa lebih memberikan dampak yang luas. Meskipun, para pelaku lapangan tetap dilakukan penindakan.
“Intinya bagaimana kami selesaikan persoalan. Jangan cuma sekadar selesaikan pekerjaan,” jelasnya.
Subhan pun tidak menutup kemungkinan akan melibatkan para jurnalis dalam pengungkapan kasus. Sehingga pengawalannya berjalan optimal. (red/rel)








