KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Ditjen Gakkum ESDM) menemukan tumpukan batubara tak bertuan seberat 50.000 ton di sejumlah dermaga bongkar muat barang tambang (jetty) sepanjang Sungai Mahakam. Temuan ini diduga berasal dari aktivitas pertambangan ilegal dan menjadi fokus pengamanan negara.
Operasi pengamanan dilakukan selama dua hari, 14–15 Januari 2026, dan menyoroti enam lokasi berbeda, termasuk pelabuhan khusus batubara serta area penambangan di Kecamatan Loa Kulu dan Sebulu, Kutai Kartanegara.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum ESDM, Jeffri Huwae, menegaskan bahwa tumpukan batubara tersebut merupakan aset negara yang rawan hilang. Untuk itu, tim Ditjen Gakkum segera melakukan pengamanan lapangan.
BACA JUGA: Prof Albertus: Distorsi Pilkada Langsung Akibat Biaya Politik Tinggi, Demokrasi Terancam
“Saat ini stockpile batubara telah diamankan dengan barikade, segel Ditjen Gakkum ESDM, dan spanduk/plang larangan untuk menegaskan bahwa ini merupakan aset negara,” ujar Jeffri, Selasa (20/1/2026) di Jakarta.
Jeffri menambahkan, langkah selanjutnya adalah menelusuri asal-usul batubara, sekaligus menilai kuantitas dan kualitasnya. Penilaian akan melibatkan pihak independen, seperti surveyor atau instansi berwenang, sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.
“Setelah seluruh proses selesai, batubara akan dilelang, dan hasilnya masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor ESDM,” jelasnya.
BACA JUGA: Kemensos Dirikan Dapur Umum dan Salurkan Bantuan untuk Ribuan Korban Banjir Pekalongan
Langkah tegas ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menindak pertambangan ilegal, sekaligus menjaga optimalisasi penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral.
Operasi pengamanan berlangsung aman dan kondusif, berkat sinergi lintas instansi, termasuk Kodam VI/Mulawarman, Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, dan Ditjen Mineral dan Batubara.
Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap aktivitas pertambangan di Kalimantan Timur, terutama di jalur strategis Sungai Mahakam yang rawan penyelundupan batubara. (KSC)
TIM REDAKSI








