USAID Kenalkan Program Momentum, Wagub Sumut: Akan Ada Reward untuk Kabupaten yang Berhasil

  • Whatsapp
USAID Kenalkan Program Momentum, Wagub Sumut: Akan Ada Reward untuk Kabupaten yang Berhasil
Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah menerima kunjungan USAID di Rumah Dinas Jabatan Wakil Gubernur, Jalan Teuku Daud, Medan, Senin (22/11/2021).

MEDAN | kliksumut.com Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah menyambut baik program ‘Momentum’ dari USAID yang berfokus pada penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Provinsi Sumut. Program yang akan berjalan selama lima tahun ke depan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut ini akan menyasar Kabupaten Deliserdang, Asahan, Langkat dan Karo.

Keberhasilan program Momentum PHD (Moving Integrated, Quality Maternal, Newborn, Child Health and Family Planning and Reproductive Health Services to Scale Private Healthcare Delivery) di kabupaten akan terus dipantau, dan akan ada reward yang disiapkan dari pemerintah untuk kabupaten yang berhasil mencapai target.

“Target program ini tentunya penurunan angka kematian ibu dan anak bayi baru lahir, dan untuk kabupaten yang bisa memang baiknya diberi reward sebagai motivasi dan bukti keseriusan kita. Rewardnya bisa berupa bantuan program misalnya, nanti dikoordinasikan dengan dinas terkait,” ujar Wagub saat menerima kunjungan USAID di Rumah Dinas Jabatan Wakil Gubernur, Jalan Teuku Daud, Medan, Senin (22/11/2021).

BACA JUGA: Pemprov Sumut Jalin Kerja Sama dengan USAID untuk Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua SPM USAID Momentum Apsari Nana, Koordinator USAID Momentum Distrik Sumut Nasril A Lubis, Spesialis Kesehatan Ibu dan Anak USAID Momentum Eka Dewi, Spesialis Monitoring dan Evaluasi OK Syahputra, Plt Kepala Dinas Sosial Sumut Manna Wasalwa Lubis, Kadis Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Nurlela dan Sekretaris Dinas Kesehatan Aris Yudhariamsyah.

Dalam kesempatan itu, Ijeck sapaan akrab Musa Rajekshah menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada USAID atas program Momentum yang telah menyasar Sumut dan berharap program ini bisa berjalan bersinergi dengan dinas-dinas terkait agar tidak tumpang tindih, sehingga ada solusi atas permasalahan kematian ibu dan anak tersebut.

“Akar masalahnya apa, apa karena memang dari Rumah Sakitnya, apa karena faktor ekonomi ibu hamilnya, apa karena pernikahan dini atau lainnya. Ini harus bersinergi, jadi programnya bisa berhasil dengan baik,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Ketua SPM USAID Momentum Apsari Nana menjelaskan, Momentum PHD memilih Sumut, juga DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan karena daerah ini yang menyumbang total 50% kematian ibu di Indonesia. USAID menginisiasi program ini sebagai bentuk komitmen menyelamatkan jiwa ibu dan bayi dengan memastikan mereka mendapatkan layanan yang berkualitas di fasilitas kesehatan swasta.

Dari data USAID, Apsari mengatakan, kematian ibu dan anak bayi baru lahir itu banyak terjadi di rumah sakit swasta. “Memang di satu daerah itukan rumah sakit swastanya lebih banyak dibanding rumah sakit pemerintahnya, jadi ini yang mau kita jangkau sehingga bisa memperbaiki fasilitas atau layanan kesehatan swasta,” katanya.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Jaga Pasokan Komoditas Hortikultura, Diperlukan Regulasi Tentang Pola Tanam

Hal ini juga dibenarkan Eka Dewi, Ia mencontohkan seperti Deliserdang yang lebih banyak rumah sakit swasta dibanding rumah sakit milik pemerintahnya. “Kenapa program ini hanya di rumah sakit swasta karena kami mencatat lebih banyak kasus kematian ibu dan anak bayi ini terjadi di swasta mungkin karena faktor rumah sakit swasta yang mudah diakses karena tadi lebih banyak dibanding rumah sakit milik pemerintahnya,” ujarnya menambahkan.

Investasi untuk pelayanan kesehatan swasta yang baik ini nantinya yang diharap dapat meningkatkan kesempatan ibu dan bayi baru lahir berusia panjang dan tetap sehat. Pelayanan yang tepat meningkatkan perawatan yang bermartabat bagi ibu dan penanganan persalinan serta menurunkan kejadian gawat darurat setelah persalinan.

“Program ini juga untuk monitoring, melatih dan membimbing tenaga kesehatan dan membantu pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang lebih kuat,” tutupnya. (wl)

Pos terkait