Transformasi Digital, Bank Sumut Dorong UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Nasional

Transformasi Digital, Bank Sumut Dorong UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Nasional
Ilustrasi pembayaran menggunakan Qris. (kliksumut.com/ist)

Oleh : Waliyono

“Bisa bayar pakai QRIS kan bu?”
“Oh, bisa. Silahkan di scan barcode-nya”, kata sang ibu pemilik warung seraya menunjukkan QRIS warung miliknya.

Percakapan di atas adalah salah satu cerminan dari semakin pesatnya perkembangan teknologi, dimana penjual sarapan pagi pun sudah bertransformasi dari pembayaran manual atau analog ke pembayaran secara digital dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Transformasi digital telah diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Secara sederhana, transformasi digitas adalah penggunaan teknologi dalam mentransformasikan proses analog menjadi digital.

Tidak hanya penjual sarapan pagi, beberapa usaha mikro kecil menengah (UMKM) di kota Medan juga sudah memiliki QRIS pada saat kita bertransaksi. Mau makan sate atau beli tahu walik di pinggir jalan, kita tak perlu repot harus bawa uang cash. Tinggal scan barcode dana langsung berpindah ke rekening penjual.

BACA JUGA: HPN 2026, Bank Sumut Buka Ruang Kompetisi Opini Jurnalis dan Apresiasi Media

Untuk mendukung dan mengedukasi UMKM bisa naik kelas dari sistem pembayaran manual ke pembayaran digital, tidak terlepas dari peran perbankan. Seperti Bank Sumut yang merupakan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara memiliki peran yang sangat strategis sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah dengan mendorong pelaku UMKM tidak hanya sekadar naik kelas, tapi bisa menembus pasar digita nasional.

Bank Sumut juga (seharusnya) tidak hanya sebagai motor penggerak lewat pemberian kredit usaha, pelatihan, tapi juga ikut membantu dan memfasilitasi mitra binaannya untuk tampil dan melapak di platform e-commerce ternama, seperti Lazada dan yang lainnya. Bank Sumut juga memiliki peluang besar dalam memberikan literasi keuangan kepada pelaku UMKM agar bisa memanfaatkan new Sumut mobile dalam berbagai aspek kehidupannya.

Dengan teknologi yang semakin pesat seperti sekarang, masyarakat sudah bisa setor dan tarik tunai tanpa harus antre. Berdasarkan pengamatan selama ini, Bank Sumut perlu melakukan terobosan-terobosan dalam mengedukasi masyarakat menabung di Bank Sumut. Terutama dalam pembukaan rekening secara daring atau online perlu dipertimbangkan agar tidak terlalu lama.

Aplikasi new Sumut mobile Bank Sumut, dengan berbagai fitur yang ada perlu disosialisasikan kepada pelaku UMKM. Semua layanan sudah adal dalam aplikasi ini, tinggal bagaimana kita memaksimalkannya. Mulai dari tarik tunai, transfer, bayar air , listrik dan tagihan lainnya sudah tersedia dalam aplikasi ini.

Bank Sumut lewat berbagai kegiatan, seperti pameran UMKM, seminar UMKM atau event-event yang melibatkan UMKM, seminar di kampus akan menjadi momen penting dalam menegaskan komitmen Bank Pembangunan Daerah ini terhadap penguatan ekosistem kewirausahaan. Melalui berbagai kegiatan ini, Bank Sumut tidak hanya memberikan dukungan pembiayaan, tetapi juga mendorong transformasi digital UMKM secara menyeluruh dan berkolaborasi dengan berbagai stakeholder.

Dalam sebuah kesempatan, Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa pemerintah fokus mempermudah perizinan bagi UMKM. Ada perintah dari Presiden untuk mengoptimalkan kolaborasi antar-kementerian dan menghapus ego sektoral, agar pelaku UMKM lebih mudah mengurus perizinan.

Sementara itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution menyampaikan bahwa dari 870 ribu pelaku UMKM di Sumut, baru 3% yang memiliki NIB dan 7,7% telah mengakses pembiayaan. Angka ini menjadi tantangan untuk kita semua agar Sumut mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

Ke depan, Bank Sumut akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai mitra strategis guna menghadirkan layanan perbankan yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan UMKM di era digital.

Tantangan dan Peluang

Kalau dulu, memilki toko fisik di pusat berbelanjaan adalah simbol kesuksesan. Sekarang? Punya toko online di marketplace dengan ribuan followers justru jadi prestasi baru. Kalau punya kesempatan jalan-jalan ke Pasar Petisah Medan atau ke Pasar Ikan Medan, sudah banyak toko yang tutup dan beralih membuka lapak di marketplace atau berjualan secara langsung (live) di akun media sosial seperti TikTok, Facebook, IG dan platform lainnya.

Digitalisasi bikin segalanya terasa lebih dekat dan cepat. Konsumen tak perlu antri atau tawar-menawar langsung. Penjual pun bisa memasarkan produk ke seluruh Indonesia bahkan dunia, cukup dari gawai di tangan. Ini menjadi peluang bagi Bank Sumut dalam mendorong beberapa UMKM binaan dan UMKM yang mau dibina agar bisa naik kelas dan melek digital.

Bagi sebagian orang, dunia digital mungkin terasa rumit, bikin akun toko online, atur konten, belajar promosi. Tapi faktanya, yang berani coba justru akan memetik hasilnya. Bagi pelaku UMKM yang sama sekali tidak mengerti dengan adanya transformasi digital ini harus diedukasi dan diberikan pelatihan.

Kalau ingat di masa lalu, sebuah toko atau etalase hanya bisa dilihat dari jalan. Kini, cukup dengan akun dan foto produk, toko bisa tampil di layar jutaan orang. Diperkuat dengan beriklan, peluang pembeli datang pun semakin terbuka lebar. Sederhana, tapi dampaknya luar biasa, baik buat pelaku usaha, maupun buat ekonomi nasional yang makin inklusif dan dinamis.

BACA JUGA: Memasuki 2026, Bank Sumut Perkuat Peran Strategis Hadapi Penyesuaian Fiskal Daerah

Supaya transformasi ini berjalan lancar, diperlukan ekosistem digital yang memadai, diantaranya teknologi, kebijakan dan kolaborasi. Di sinilah Pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Sumut sebagai Bank Pembangunan Daerah mengambil peran besar dalam memebrikan literasi keuangan menuju pembayaran yang inklusif dan aman.

Transformasi digital tidak bisa hanya dibiarkan berjalan sendiri. Ia butuh kolaborasi: antara pemerintahan, industri, UMKM, start up, hingga masyarakat. Peran Bank Sumut dalam penerapan transformasi digital kepada pelaku UMKM adalah dengan menyediakan ruang bagi masyarakat atau UMKM untuk belajar, berjejaring, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari ekonomi digital yang lebih besar.

Karena, transformasi digital membuka jalur bagi siapa saja, tidak hanya perusahaan besar, penjual tahu walik atau dimsum di pinggir jalan pun punya kesempatan yang sama untuk tumbuh. Ketika transaksi bisa dilakukan dari ponsel, waktu dan lokasi bukan lagi hambatan. Inilah inklusi ekonomi sesungguhnya. (Penulis adalah wartawan kliksumut.com)

Pos terkait