Oleh: Astri Meisya Putri
KLIKSUMUT.COM | Pernahkah kamu melihat sungai yang airnya berminyak atau tanah bekas bengkel yang hitam dan berbau? Pencemaran seperti ini sering kita anggap sulit dibersihkan. Padahal, ada cara yang memanfaatkan “pekerja” kecil yang sudah ada di alam: mikroba. Cara ini disebut bioremediasi.
Apa Itu Bioremediasi?
Bioremediasi adalah cara membersihkan pencemaran dengan bantuan makhluk hidup, seperti bakteri, jamur, dan tumbuhan. Bayangkan bakteri sebagai makhluk kecil yang suka makan. Sebagian bakteri doyan “makan” minyak, sisa makanan, atau zat kimia tertentu. Setelah memakannya, zat berbahaya itu berubah menjadi zat yang lebih aman, seperti air dan gas karbon dioksida. Jadi, kita tidak membuang pencemar ke tempat lain, tetapi benar-benar menguraikannya.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Ada empat cara utama yang biasa dipakai. Cara pertama adalah memberi “makanan” tambahan bagi mikroba yang sudah ada di tanah, berupa nutrisi dan udara, supaya mereka lebih aktif bekerja. Jika mikroba setempat kurang jago menguraikan pencemar, cara kedua yang bisa ditempuh adalah menambahkan mikroba pilihan yang sudah terbukti efektif. Cara ketiga memakai tanaman tertentu yang mampu menyerap racun dari tanah dan air lewat akarnya. Cara keempat memanfaatkan jamur, yang bisa menguraikan zat yang sulit hancur seperti minyak dan pewarna.
Contoh Nyata
Salah satu contoh yang paling terkenal terjadi setelah kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez pada tahun 1989. Pantai yang tercemar minyak diberi pupuk agar bakteri pemakan minyak bekerja lebih cepat. Cara serupa juga dipakai pada tanah bekas kegiatan minyak bumi, di mana bakteri menguraikan minyak yang meresap ke dalam tanah. Di lahan bekas tambang, tanaman ditanam untuk menahan dan menyerap logam berat, sedangkan di pabrik, mikroba membantu menguraikan limbah organik sebelum air dibuang ke sungai.
Bisa Diterapkan di Rumah? Bisa!
Kamu tidak perlu menjadi ilmuwan untuk ikut menerapkannya. Prinsip bioremediasi sudah ada dalam kebiasaan sehari-hari yang sederhana. Yang paling mudah adalah membuat kompos dari sampah dapur. Sisa sayur, kulit buah, dan daun kering akan diurai oleh mikroba menjadi pupuk, sehingga sampah berkurang dan tanah menjadi subur.
Kamu juga bisa menanam tanaman yang dikenal membantu menyerap pencemar. Eceng gondok dapat membantu menyaring air yang tercemar, meski perlu dikendalikan karena cepat menyebar. Bunga matahari dan vetiver atau akar wangi berguna untuk menahan dan menyerap logam berat di tanah, sementara lidah mertua dan sirih gading cocok sebagai tanaman dalam ruangan. Perlu diingat, tanaman yang sudah menyerap racun tidak boleh dimakan atau dijadikan kompos, dan harus dibuang dengan benar.
Di dapur, pasanglah perangkap lemak pada bak cuci piring agar minyak tidak langsung masuk ke selokan. Air bekas cucian sebaiknya dialirkan ke kolam kecil bertanaman air atau ke taman, bukan langsung ke sungai, dan akan lebih baik lagi bila kamu memakai sabun serta deterjen yang mudah terurai. Larutan mikroba seperti EM4 yang banyak dijual juga bisa membantu mengurai sampah organik, mengurangi bau kandang atau selokan, dan mempercepat pembuatan kompos. Cukup ikuti petunjuk pemakaian pada kemasannya.
Upaya ini akan lebih berdampak bila dilakukan bersama. Kamu bisa mengajak warga membuat bank sampah atau komposter bersama di lingkungan RT/RW, menanam vetiver di tepi saluran air atau lahan miring, dan mengajak sekolah membuat taman kecil penyaring air.
Yang Perlu Diingat
Bioremediasi membutuhkan waktu, bisa berminggu-minggu hingga bertahun-tahun, dan hasilnya dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, serta jenis pencemarnya. Metode rumahan membantu mencegah dan mengurangi pencemaran skala kecil, tetapi bukan pengganti pengolahan limbah profesional. Untuk pencemaran besar seperti tumpahan minyak, limbah B3, atau logam berat, serahkan pada ahli dan pihak berwenang dan jangan ditangani sendiri.
Penutup
Bioremediasi mengajarkan bahwa alam punya kemampuan membersihkan diri, asal kita memberinya kesempatan dan tidak membebaninya berlebihan. Mulai dari hal kecil seperti mengompos sampah dapur dan menanam tanaman, kita sudah ikut menjadi bagian dari solusi.
Penulis: Mahasiswi Pascasarjana Universitas AlMuslim








