EDITOR: Fik Sagala
LAPORAN: Tim Redaksi
KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Malang nasib FAH, santri salah satu pesantren di kawasan Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Medan, Sumatera Utara (Sumut). Akibat dianiaya teman sendiri, remaja 14 tahun warga Medan Timur ini mengalami luka serius pada gigi.
Ibu korban, SD mengatakan, peristiwa terjadi saat korban FAH sedang santai berbaring di masjid pesantren pada Ramadhan 2025 lalu. Tiba-tiba, tanpa sebab jelas, rekan korban IMM, datang dan langung menginjah wajah korban hingga mengakibatkan gusi dan tiga gigi cedera parah. Korban sempat dilarikan ke klinik pesantren untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun akibat kondisi gigi memburuk, pihak kelurga membawa FAH menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Giginya condong ke arah dalam. Dari hasil rontgen, gigi cedera. Kata dokter, dugaan karena benturan benda keras hinga merusak syaraf gigi. Sekarang sudah jalan perawatan tahap dua,” ujar SD.
BACA JUGA: Optimalisasi Healing Corner dan Program Relaxed di UPT SPF SDN 104201 Kolam: Upaya Meningkatkan Resiliensi Anak Korban Bullying
Meski telah menjalani perawatan medis, dampak dari penganiayaan tersebut menyebabkan dua gigi FAH mengalami perubahan warna dan berpotensi membusuk.
“Awalnya hitam satu gigi. Kini satu lagi ikut hitam. Akar gigi mati. Moga gigi yang ketiga tidak ikut hitam,” harap SD.
Keluarga korban telah meminta pertanggungjawaban keluarga pelaku, namun tidak mendapat respon positif. Bahkan, keluarga pelaku tidak membantu sekadar meringankan biaya perobatan FAH.
“Kita lihat, tidak ada itikad baik dari keluarga pelaku. Lepas tanggungjawab. Ini menambah sedih kita sebagai orangtua korban. Untuk berobat, kita terpaksa pinjam sana-sini,” sebut SD.
BACA JUGA: Polres Tapteng Tak Tinggal Diam, Penganiayaan Siswa SMA Matauli Pandan Masuk Tahap Penyidikan
Keluarga korban juga telah menyampaikan keluhan terkait penganiayaan yang dialami FAH kepada pihak pesantren, namun tidak membuahkan hasil sesuai harapan. Pihak pesantren hanya mendengar keluhan, namun tidak mencari solusi menyelesaikan tindak kekerasan santri yang terjadi dilingkungannya.
“Saat ini anak saya jadi korban. Esok lusa, bisa jadi santri lain. Jika tidak ada tindakan tegas dari pihak pesantren, tindak kekerasan akan dianggap para santri sebagai hal wajar,” tegas SD.
Saat dikonfirmasi wartawan terkait penganiayaan FAH pada Selasa (19/8/2025) malam, pihak pesantren memilih bungkam dan terkesan menutupi tindak kekerasan yang terjadi di area pesantrennya.
“Siapa inisial F itu, Pak? Maksudnya gimana?” ujar salah seorang pengurus pesantren balik bertanya. (KSC)








