KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah tajam hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di pasar non-deliverable forward (NDF). Berdasarkan data Refinitiv, Senin (7/4/2025) pukul 10:43 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp17.261 per dolar AS, menandai pelemahan signifikan dari posisi terakhir di Rp16.555/US$ pada Kamis (27/3/2025) sebelum libur Lebaran.
Rupiah Terjun Bebas di Pasar NDF
Pelemahan drastis ini terjadi di pasar NDF—pasar kontrak derivatif mata uang yang aktif di pusat-pusat keuangan dunia seperti Singapura, Hong Kong, London, dan New York. Meski tidak tersedia di Indonesia, pasar NDF kerap menjadi barometer psikologis bagi pergerakan nilai tukar di pasar spot dalam negeri.
BACA JUGA: Trump Terapkan Tarif Impor 32 Persen untuk Indonesia, Dampak Besar bagi Perdagangan
Tarif Trump Bikin Geger, Indonesia Jadi Korban Baru
Salah satu faktor utama di balik melemahnya rupiah adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali memicu perang dagang global. Trump menetapkan tarif resiprokal hingga 32% terhadap produk asal Indonesia karena defisit perdagangan yang besar dari sisi AS.
Tarif tinggi ini membuat produk Indonesia menjadi tidak kompetitif di pasar Amerika. Barang-barang asal Indonesia diprediksi tidak laku karena harga menjadi lebih mahal dibandingkan produk lokal. Akibatnya, arus masuk dolar AS ke Indonesia bisa menyusut drastis, menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Investor Asing Mulai Kabur, Risiko Global Meningkat
Ekonom Senior Bank DBS, Radhika Rao, menyebut pelemahan rupiah dipicu kombinasi antara tekanan eksternal dan lemahnya sentimen domestik. Menurutnya, pengenaan tarif tinggi oleh AS telah memicu pelarian modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Hal senada disampaikan Chief FX Strategist dari SMBC, Hirofumi Suzuki, yang menekankan bahwa depresiasi rupiah merupakan dampak langsung dari meningkatnya ketidakpastian global. Ia mengimbau publik tidak panik karena ini bukan kesalahan Bank Indonesia, melainkan efek dari kondisi eksternal yang kompleks.
“Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global semakin meningkat. Hal ini menyebabkan depresiasi rupiah,” ujar Hirofumi.
Pemerintah RI Ambil Jalur Negosiasi, BI Lakukan Triple Intervention
Merespons situasi ini, Pemerintah Indonesia melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa jalur diplomasi akan ditempuh guna meredam dampak dari kebijakan tarif Trump. Dalam Rapat Koordinasi Terbatas yang digelar virtual, Airlangga menyatakan bahwa Indonesia telah menyiapkan rencana aksi cepat sebelum batas waktu 9 April 2025.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga angkat suara. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa bank sentral terus memantau dinamika pasar dan telah menjalankan strategi triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, DNDF, dan pasar sekunder SBN.
BACA JUGA: Trump Janji Dukung Industri Kripto di Hadapan Para Pemimpinnya
“BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha,” tegas Ramdan.
Waspadai Dampak Lanjutan, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada impor dan sektor keuangan, namun juga bisa berimbas pada inflasi serta daya beli masyarakat. Analis pasar menilai langkah cepat dari pemerintah dan koordinasi lintas sektor menjadi krusial untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang semakin besar. (KSC/CNBC)








