Perhimpunan Pergerakan 98 Peringati 23 Tahun Soeharto Lengser



Catatan kritis aktivis 98, sambung Hendra, terutama penuntasan penembakan mahasiswa dan kekerasan Mei 1998 serta keterpurukan perekonomian Indonesia yang dikendalikan kelompok pro neoliberalis dan kapitalis bersama oligarki.

Bendahara Majelis Nasional Perhimpunan Pergerakan 98 Romy Prapanca mengatakan, gagasan reformasi hadir bukan untuk memberi karpet merah bagi ‘aktivisnya’ mendapat tempat dalam kekuasaan, melainkan untuk tatanan baru yang melahirkan harapan baru datangnya perubahan yakni rakyat sejahtera, negara kuat, demokrasi dan kesetaraan serta Indonesia yang ber – Bhinneka Tunggal Ika tanpa sikap intoleran terhadap pemeluk suku dan agama di Indonesia.

Baca juga: Jelang Lebaran, Dir Lantas Poldasu Cek Penyekatan Perbatasan Provinsi



“Gerakan Reformasi 1998 adalah gerakan sosial transformatif yang tidak memiliki kepemimpinan tunggal. Simpul-simpul kampus dan rakyat, komunitas, entitas bergerak memiliki pemimpin kelompoknya sendiri – sendiri. Tidak ada aktor tunggal aktivis 98,” ujar Romy.

Unjuk rasa puluhan ribu mahasiswa waktu itu, sambung Romy, dipimpin secara bergantian dan sporadis oleh ratusan pemimpin kelompok aksi mahasiswa yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia termasuk di Medan.

“Sifat egaliter aktivis 98 yang membedakan kami dengan aktivis 66 dan 74 hingga aktivis 78,” ujar Romy. (tim)

Pos terkait