Peluang dan Tantangan Konvergensi Media di Era Digital

Penulis: Eko Haryanto dan Aziz Rival Harahap

kliksumut.com – Dengan berkembangnya teknologi saat ini, masyarakat umum terus mencari sesuatu yang dapat menunjang segala aktivitasnya. Informasi dan hiburan adalah bagian dari apa yang banyak orang cari. Media kemudian dapat memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Dengan begitu, Media dapat memenuhi kebutuhan publik. Konvergensi media mengintegrasikan media dalam satu platform ke dalam media digital, akan semakin mudah bagi masyarakat luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, media digital berkembang pesat dan berkembang menjadi sarana penyediaan informasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui Medsos, masyarakat bisa lebih mudah mengakses informasi dan berita yang diinginkan, tanpa ada batasan ruang dan waktu. Dampak yang paling dirasakan adanya perubahan manajemen media massa.

BACA JUGA: Telkomsel Ajak UMKM Lokal Melesat Dengan Digital

Kemajuan teknologi dan informasi yang menyebabkan media juga mengalami perubahan yang pesat, mulai dari kompetensi, konten berita, dan peranan karyawan, Persaingan pasar global yang semakin ketat, Kebutuhan masyarakat akan kemudahan dan kecepatan akses informasi, Era disrupsi digital, sehingga membuat media massa harus bisa beradaptasi. Untuk melakukan penetrasi pasar seluas mungkin berbagai strategi pun dilakukan dengan melakukan tranformasi konvergensi media ke bentuk digital.

Secara lebih khusus konvergensi media bukan hanya sekadar pergeseran teknologi, akan tetapi keberadaan konvergensi mengubah hubungan antara teknologi yang ada, baik dari sisi industri, pasar, genre, maupun khalayak. Konvergensi mengacu pada proses, bukan titik akhir. Berkat kecanggihan dan perkembangan teknologi media yang begitu pesat, masyarakat dapat menggunakan segala jenis media dan membangun relasi.

Konvergensi media juga menyebabkan pergeseran paradigma dalam industri budaya dan sosial, mendorong konsumen untuk mencari informasi baru. Konvergensi media adalah bentuk baru mempelajari bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain di tingkat sosial dan menghubungkan kita secara sosial dan dengan konsumen lain serta produsen perusahaan media, yang terjadi dengan menggunakan media dan konten. Gerakan konvergensi media telah berkembang, terutama dengan munculnya Internet dan digitalisasi informasi. Konvergensi media ini mengintegrasikan 3K, komputasi (memasukkan data melalui komputer), komunikasi (komunikasi), dan konten (konten).

Teori Konvergensi Media yang dipelajari oleh Henry Jenkins pada tahun 2006, menyatakan bahwa konvergensi media adalah proses yang mengikuti perkembangan budaya sosial. Penggerak konvergensi media adalah mengubah perilaku konsumen saat membaca berita, distribusi pemasaran dan pendapatan iklan yang lebih rendah, harga produk surat kabar yang lebih tinggi, dan budaya literasi publik yang lebih lemah. Penggunaan teknologi komunikasi jelas dapat menjembatani jalur transportasi untuk mengirimkan media informasi kepada masyarakat. Akibatnya jurnalisme online muncul, dan wartawan perlu terus memperbarui informasi yang mereka tampilkan, bersamaan dengan pengetahuan baru di bidang ini.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Kemendag: Era Baru Perdagangan Fisik Emas Digital di Bursa Berjangka Dimulai

Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera memasukan informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.

Dari tulisan yang disajikan, dapat disimpulkan, baik atau buruknya, media tradisional era konvergensi perlu mengikuti perkembangan zaman. Konvergensi media, di sisi lain, memungkinkan profesional media massa untuk menggunakan berbagai media untuk menyampaikan berita dan menyajikan informasi dan hiburan. Komunikasi terkonvergensi menyediakan berbagai alat untuk pengiriman pesan, memungkinkan konsumen untuk memilih tingkat interaktivitas sambil mengontrol pengiriman konten. (**)

Pos terkait