KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Di tengah era digital yang menuntut segala sesuatu serba cepat, sebuah tren komunikasi justru bergerak ke arah sebaliknya. Generasi Z mulai tertarik menggunakan aplikasi pesan yang sengaja memperlambat pengiriman pesan, bahkan dengan risiko pesan tersebut tidak pernah sampai kepada penerima.
Fenomena unik ini muncul melalui aplikasi bernama Carrier Pidge dan Roost, yang menawarkan pengalaman berkirim pesan layaknya zaman dahulu ketika surat dikirim menggunakan burung merpati.
Dikutip dari laporan Yahoo Tech, Jumat (28/8/2026), konsep tersebut menjadi alternatif yang tidak biasa dari aplikasi pesan instan seperti iMessage yang populer di Amerika Serikat maupun WhatsApp yang banyak digunakan di berbagai negara.
Pesan Tidak Langsung Sampai
Cara kerja aplikasi ini terbilang unik. Ketika pengguna menekan tombol kirim, pesan tidak langsung diterima oleh orang yang dituju.
Sebagai gantinya, seekor merpati virtual akan digambarkan “terbang” membawa pesan dari lokasi pengirim menuju penerima.
Kecepatan penerbangan merpati virtual tersebut rata-rata mencapai sekitar 177 kilometer per jam. Jika jarak pengirim dan penerima berdekatan, pesan dapat tiba hanya dalam hitungan detik.
Namun, berbeda ceritanya jika pesan dikirim ke lokasi yang sangat jauh atau bahkan lintas benua. Pengguna harus menunggu selama berjam-jam sebelum pesan akhirnya tiba.
Yang membuat pengalaman ini semakin unik, terdapat kemungkinan sekitar 0,2 persen burung virtual tersebut “hilang” dalam perjalanan, sehingga pesan yang dikirim tidak pernah sampai kepada penerima.
Dengan kata lain, pengguna harus siap menerima kenyataan bahwa pesan yang sudah dikirim bisa saja lenyap begitu saja.
Dibuat Hanya dalam Tiga Minggu
Aplikasi Carrier Pidge dikembangkan oleh Noah Iarrobino. Menariknya, aplikasi tersebut disebut dibuat hanya dalam waktu sekitar tiga minggu.
Sang pengembang bahkan tidak berusaha menyembunyikan konsep nyeleneh dari aplikasinya. Dalam keterangan di toko aplikasi, Carrier Pidge secara terbuka disebut sebagai aplikasi yang “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis”.
Namun, justru ketidakpraktisan itulah yang menjadi daya tarik.
Di tengah banjir aplikasi komunikasi yang menawarkan kecepatan, Carrier Pidge menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman menunggu.
Pengguna tidak lagi hanya melihat notifikasi pesan masuk dalam hitungan detik. Mereka dapat menyaksikan perjalanan seekor merpati virtual sebelum pesan akhirnya tiba.
Bisa Melihat Perjalanan Merpati di Peta
Salah satu fitur yang membuat aplikasi ini menarik adalah kemampuan pengguna melihat perjalanan merpati melalui peta.
Setelah pesan dikirim, pengguna dapat memantau pergerakan burung virtual tersebut menuju lokasi penerima.
Pengalaman seperti ini menciptakan sensasi yang hampir tidak ditemukan dalam aplikasi pesan instan konvensional.
Pada WhatsApp, Telegram, maupun iMessage, pesan biasanya langsung terkirim setelah tombol kirim ditekan. Dalam hitungan detik, pesan sudah berada di perangkat penerima.
Akibatnya, proses komunikasi menjadi sangat cepat sekaligus terasa biasa.
Sebaliknya, konsep merpati virtual membuat menunggu menjadi bagian dari komunikasi.
Roost Diklaim Sudah Punya 300.000 Pengguna
Fenomena tersebut ternyata bukan sekadar gimmick atau tren sesaat.
Aplikasi lain dengan konsep serupa, Roost, dilaporkan telah mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna hanya dalam beberapa minggu setelah diluncurkan.
Angka tersebut menunjukkan adanya kelompok pengguna yang justru menikmati komunikasi yang lebih lambat di tengah kehidupan digital yang semakin instan.
Tren ini juga menjadi gambaran menarik tentang perubahan perilaku pengguna internet, khususnya generasi muda.
Selama bertahun-tahun, teknologi komunikasi dikembangkan dengan satu tujuan utama: membuat pesan sampai secepat mungkin.
Namun, ketika komunikasi menjadi terlalu mudah dan terlalu cepat, muncul persoalan baru. Orang dapat mengirim pesan tanpa berpikir panjang dan merasa harus segera mendapatkan balasan.
Ketika Menunggu Justru Menjadi Menyenangkan
Aplikasi pesan berbasis merpati virtual menawarkan pengalaman yang berlawanan.
Pengirim memiliki waktu untuk berpikir sebelum mengirimkan pesan. Sementara penerima tidak harus merasa terbebani untuk memberikan respons dalam hitungan detik.
Tidak adanya kepastian kapan pesan tiba justru dapat mengurangi tekanan komunikasi.
Pesan yang sebelumnya hanya dianggap sebagai notifikasi kini kembali terasa seperti sesuatu yang ditunggu.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa dalam dunia yang semakin cepat, lambat ternyata bisa menjadi sesuatu yang menarik.
Generasi Z mungkin tidak benar-benar ingin kembali ke masa lalu. Namun, tren aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost menunjukkan bahwa sebagian pengguna mulai merindukan komunikasi yang memiliki jeda, kejutan, dan rasa penasaran.
Pada akhirnya, teknologi yang paling menarik bukan selalu teknologi yang membuat segala sesuatu berlangsung lebih cepat. Terkadang, justru teknologi yang membuat kita mau menunggu dapat memberikan pengalaman komunikasi yang lebih berkesan. (KSC)








