KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Sejumlah pelanggan layanan internet satelit Starlink dibuat terkejut setelah tagihan mereka mendadak membengkak hingga US$1.500 atau sekitar Rp27 juta. Lonjakan biaya tersebut disebut berasal dari kebijakan baru berupa “biaya tambahan permintaan” (demand surcharge) yang dikenakan kepada pelanggan di wilayah dengan tingkat penggunaan jaringan sangat tinggi.
Kebijakan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap layanan internet satelit milik miliarder Elon Musk yang terus mengalami pertumbuhan jumlah pengguna di berbagai negara.
Berdasarkan laporan TechDirt yang dikutip Futurism, Senin (6/7/2026), Starlink diam-diam mulai menerapkan biaya tambahan berkisar US$750 hingga US$1.500 atau sekitar Rp13,4 juta hingga Rp27 juta kepada pelanggan yang alamatnya berada di kawasan dengan permintaan layanan tertinggi.
BACA JUGA: Starlink Kembali Buka Pendaftaran untuk Pelanggan Baru di Indonesia, Ini Harga Paket Terbarunya!
“Starlink terlalu padat menangani beban dalam skala besar, membebankan biaya tambahan secara diam-diam sebesar US$750 hingga US$1.500 kepada pelanggan,” tulis laporan tersebut.
Keluhan pun bermunculan di berbagai forum daring, termasuk Reddit. Salah seorang pelanggan mengaku dikenai biaya tambahan sebesar US$1.500 hanya setelah melakukan verifikasi alamat yang sebenarnya telah digunakan selama tiga tahun.
Pelanggan tersebut mengaku telah berulang kali menghubungi layanan pelanggan Starlink. Namun, selama lima hari berturut-turut ia hanya dipindahkan dari satu agen ke agen lainnya tanpa memperoleh solusi.
Tak sedikit pelanggan yang menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan yang tidak transparan. Bahkan, seorang pengguna mengaku sempat diberi tahu oleh agen layanan pelanggan bahwa biaya tambahan itu kemungkinan merupakan kesalahan sistem internal. Meski demikian, pihak layanan pelanggan disebut tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan tagihan tersebut dan hanya bisa mengajukan eskalasi.
Keluhan serupa juga datang dari pengguna Starlink yang menggunakan layanan saat bepergian dengan kendaraan RV. Ia mengaku dikenai biaya tambahan sebesar US$500 atau sekitar Rp9 juta karena berada di area yang dikategorikan memiliki permintaan layanan sangat tinggi.
Meski telah mengajukan banding dan mengancam menghentikan langganannya, permintaan tersebut dilaporkan ditolak oleh pihak Starlink.
Dalam sejumlah kasus lainnya, beberapa pelanggan akhirnya memperoleh pengembalian dana setelah diketahui terjadi kesalahan koordinat lokasi yang menyebabkan sistem salah mengidentifikasi wilayah penggunaan. Namun, tidak semua pelanggan bernasib sama. Sebagian tetap diwajibkan membayar biaya tambahan tersebut agar layanan tetap dapat digunakan.
BACA JUGA: Tiba di Bali, Elon Musk Siap Luncurkan Starlink
Bagaimana dengan Pelanggan Starlink di Indonesia?
Hingga saat ini belum ada laporan serupa dari pelanggan Starlink di Indonesia terkait tagihan yang melonjak akibat biaya tambahan permintaan.
Berdasarkan informasi di situs resmi Starlink Indonesia, harga layanan masih tetap normal. Paket Residensial Lite ditawarkan dengan tarif Rp510.000 per bulan dengan kecepatan internet hingga 200 Mbps, yang ditujukan untuk kebutuhan internet rumah tangga sehari-hari.
Sementara itu, paket Residensial dibanderol Rp800.000 per bulan dengan kecepatan hingga 350 Mbps, tanpa adanya informasi mengenai biaya tambahan seperti yang dikeluhkan pelanggan di sejumlah negara.
Meski demikian, munculnya keluhan dari berbagai pengguna di luar negeri menjadi perhatian tersendiri. Pelanggan berharap Starlink dapat memberikan penjelasan yang lebih transparan mengenai penerapan biaya tambahan tersebut agar tidak menimbulkan kebingungan maupun beban finansial yang tidak terduga. (KSC)








