Pabrik Tak Patuhi Aturan Harga Buah Sawit, Petani Menjerit

Pabrik Tak Patuhi Aturan Harga Buah Sawit, Petani Menjerit
Seorang pekerja memuat buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat. (Foto: Antara/Sahrul Manda Tikupadang via REUTERS)

Pelarangan ekspor bahan baku minyak goreng merugikan petani sawit. Harga tandan buah segar dipermainkan oleh pabrik kelapa sawit


JAKARTA | kliksumut.com Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung mengatakan sejak pemerintah memberlakukan larangan ekspor bahan baku minyak goreng pada 28 April, harga buah tandan segar (TBS) yang biasa diterima petani sawit anjlok.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com ia menjelaskan, tidak ada satu pun pabrik kelapa sawit (PKS) yang mematuhi harga TBS sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 01 tahun 2018. Berdasarkan peraturan itu harga TBS seharusnya sekitar Rp3.900 per kg. Pabrik kelapa sawit biasanya mengolah TBS menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Diduga akan Diekspor ke Singapura, TNI AL Tangkap Kapal Berisi 34 Kontainer Bahan Baku Minyak Goreng

“Faktanya apa? Adakah pabrik yang patuh terhadap harga TBS yang sudah disepakati tersebut? Jawabannya tidak satupun mau patuh. Semuanya membuat alibi masing-masing, ada yang mengatakan “ini kan sedang dilarang ekspor, gimana ini?” itu alasan mereka ke petani. Bahkan ada lagi PKS yang lebih keras mengatakan bahwa TBS tidak laku karena minyaknya tidak boleh dijual ke luar negeri,” ungkap Gulat kepada VOA.

Gulat menuturkan seharusnya permasalahan ini bisa diantisipasi oleh kementerian terkait dan Satgas Pangan Nasional.Ia menyayangkan sampai detik ini tidak ada tindakan tegas dari pemerintah untuk mengatasi hal ini, termasuk menjatuhkan sanksi berupa pencabutan izin usaha pabrik kelapa sawit.

“Hari ini harga TBS sudah mencapai harga yang paling terendah yaitu Rp1.050 per kg di pabrik. Ini kan sudah perampokan secara berjamaah oleh pabrik-pabrik kelapa sawit dan negara tidak hadir membantu petani sawit. Pemerintah yakni Menteri semuanya diam seribu Bahasa, kemana itu Menteri Pertanian? Kemana dia? Kenapa dia tidak pernah berbicara mengenai sawit?,” tambahnya.

Selain terus menekan harga TBS petani sawit, ujar Gulat, para pabrik kelapa sawit juga kerap memotong timbangan TBS sebesar 10-15 persen dengan berbagai macam alasan sehingga keuntungan yang diperoleh pabrik kelapa sawit menjadi lebih besar.

“Tidak ada yang bertindak, pemerintah dalam hal ini Kementerian terkait. Kami sudah bolak-balik minta Satgas Pangan Nasional untuk turun, cek itu pabrik-pabrik itu kan urusan Satgas Pangan karena sudah menganggu ketahanan pangan. Kalau dibeli cuma Rp1.200 per kilogram kami nggak makan. Itu tidak ada, jadi kementerian terkait sama sekali loss melakukan pengawasan,” tegasnya.

Gulat berharap pemerintah bisa menegakkan Permentan No. 01 Tahun 2018 kepada para pabrik kelapa sawit dan menetapkan sanksi pidana kepada pelanggar. Selain itu, para petani sawit berharap aparat penegak hukum turun ke lapangan dan melakukan investigasi terhadap permasalahan ini.

BACA JUGA: Larangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tidak Ancam Pasokan Uni Eropa

“Kami memohon kepada semua produsen minyak goreng supaya segera melaksanakan perintah Jokowi untuk membanjiri minyak goreng khususnya minyak goreng curah di tengah masyarakat supaya bekerja sama dengan Bulog yang sudah diberikan penugasan oleh pemerintah untuk membantu distribusi minyak goreng ini supaya kisruh masalah minyak goreng cepat berlalu dan ekspor bisa kembali normal,” tuturnya.

Kredibilitas Indonesia Bisa Hancur

Pengamat ekonomi Indef Eko Listiyanto mengungkapkan di luar dampak kerugian ekonomi yang besar, menurutnya yang paling sulit untuk dihadapi Indonesia dalam jangka panjang adalah mengembalikan kepercayaan mitra dagang strategisnya.

Menurutnya, pemerintah harus berupaya keras untuk merebut kembali reputasi Indonesia yang sudah cukup tercoreng di mata dunia akibat kebijakan tersebut. (VOA)

Pos terkait