Nasida Ria: Legenda Qasidah Modern Indonesia dari Semarang yang Mendunia Sejak 1975

Nasida Ria: Legenda Qasidah Modern Indonesia dari Semarang yang Mendunia Sejak 1975
Nama Nasida Ria kembali mencuri perhatian publik sebagai salah satu ikon musik religi Indonesia yang tetap eksis lintas generasi. Grup kasidah modern asal Semarang ini telah menorehkan sejarah panjang sejak berdiri pada 1975 hingga kini.

KLIKSUMUT.COMNama Nasida Ria kembali mencuri perhatian publik sebagai salah satu ikon musik religi Indonesia yang tetap eksis lintas generasi. Grup kasidah modern asal Semarang ini telah menorehkan sejarah panjang sejak berdiri pada 1975 hingga kini.

Dengan formasi perempuan yang kuat dan konsisten membawa pesan dakwah, Nasida Ria menjadi salah satu grup kasidah modern tertua dan paling berpengaruh di Tanah Air.

Bacaan Lainnya

Nasida Ria didirikan oleh H. Mudrikah Zain bersama HM Zain, seorang guru qira’at yang memiliki visi menggabungkan musik dengan dakwah Islam.

Awalnya, grup ini hanya menggunakan alat musik sederhana seperti rebana. Namun, perkembangan signifikan terjadi ketika Wali Kota Semarang saat itu, Iman Soeparto Tjakrajoeda, memberikan dukungan berupa alat musik organ.

Seiring waktu, Nasida Ria mulai menggunakan instrumen modern seperti gitar, bass, hingga biola, menciptakan perpaduan unik antara nuansa Arab klasik dan musik modern.

Album perdana mereka, Alabaladil Makabul, dirilis pada akhir 1970-an dan menjadi tonggak awal perjalanan panjang mereka di industri musik religi.

Di awal karier, lagu-lagu Nasida Ria banyak menggunakan bahasa Arab. Namun, setelah mendapat masukan dari ulama Ahmad Buchori Masruri, mereka mulai beralih menggunakan bahasa Indonesia agar pesan dakwah lebih mudah diterima masyarakat luas.

Keputusan ini terbukti sukses. Lagu-lagu seperti: “Pengantin Baru” “Tahun 2000” “Jilbab Putih” “Anakku” dan “Kota Santri” menjadi hits dan sering diputar di radio hingga pelosok desa.

BACA JUGA: Dewi Dewi: Perjalanan Grup Vokal Bentukan Ahmad Dhani yang Sempat Menggebrak Industri Musik Indonesia

Popularitas Nasida Ria tidak hanya terbatas di Indonesia. Mereka pernah tampil di Malaysia dalam perayaan Tahun Baru Islam, serta tampil di panggung internasional seperti festival budaya Islam di Berlin, Jerman.

Salah satu momen paling bersejarah terjadi saat mereka tampil di ajang Documenta Fifteen di Kassel, Jerman pada 2022. Penampilan ini kembali mengangkat nama mereka di kancah global.

Nasida Ria dikenal dengan gaya musik yang memadukan: irama Arab tradisional, instrumen modern Barat dan lirik dakwah yang relevan dengan isu sosial

Tema lagu mereka tidak hanya soal agama, tetapi juga menyentuh isu seperti perdamaian, lingkungan, keadilan, hingga kehidupan sosial.

Selain musik, busana juga menjadi identitas kuat mereka. Desainer ternama Anne Avantie pernah merancang kostum panggung mereka yang khas dan elegan.

Sepanjang kariernya, Nasida Ria telah meraih berbagai penghargaan, termasuk dari Persatuan Wartawan Indonesia pada 1989.

Lagu legendaris mereka, “Perdamaian”, bahkan di-cover oleh band Gigi, sementara “Kota Santri” pernah dibawakan oleh Krisdayanti dan Anang Hermansyah.

Pengaruh Nasida Ria juga melahirkan banyak musisi kasidah modern lainnya, seperti Haddad Alwi dan Sulis, hingga grup nasyid populer Malaysia seperti Raihan.

BACA JUGA: Typicals: Reinkarnasi JKT48 Acoustic, Empat Eks Member Bangun Identitas Baru di Industri Musik Indonesia

Kini, Nasida Ria tetap aktif bermusik dengan generasi baru dan bahkan memiliki grup junior bernama Qasidah ezzurA. Manajemen grup saat ini dipegang oleh Choliq Zain, yang merupakan penerus dari pendiri sebelumnya.

Lebih dari sekadar grup musik, Nasida Ria adalah simbol perjalanan panjang musik religi Indonesia. Dengan lebih dari empat dekade berkarya, mereka membuktikan bahwa dakwah bisa disampaikan dengan cara yang indah, modern, dan tetap relevan di setiap zaman.

Nasida Ria bukan hanya legenda—mereka adalah warisan budaya yang terus hidup dan menginspirasi generasi baru. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait