Mata Uang Asia Terpukul Dolar AS, Rupiah Tahan Gempuran dan Catat Performa Terbaik

Pengamat: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika Serikat Berpotensi Membaik
ILUSTRASI - Pada perdagangan Senin (23/12/2024), nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp16.196 per USD. (VOA)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Mata uang-mata uang utama Asia mengalami koreksi kompak terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama sepekan terakhir, tepatnya pada periode 23-30 Mei 2025. Namun, rupiah Indonesia justru mampu menunjukkan ketahanan yang relatif kuat dibandingkan negara tetangga.

Mengacu data Refinitiv, mata uang yang mencatat depresiasi terdalam adalah won Korea Selatan yang melemah 1,27%, disusul oleh baht Thailand yang terkoreksi 1,23%, dan yen Jepang yang turun 1,05% terhadap dolar AS.

BACA JUGA: Jadi Pembicara Utama di Universitas Stanford, Menko AHY Paparkan 3 Strategi Kemakmuran dan Keberlanjutan Pembangunan di Asia Tenggara

Sementara itu, ringgit Malaysia tercatat turun 0,59%, dan rupiah Indonesia terdepresiasi paling ringan yakni hanya 0,43% secara mingguan.

Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Tarif Global

Penguatan dolar AS secara mingguan tercermin dari indeks dolar (DXY) yang naik 0,22%, dari level 99,11 menjadi 99,33. Penguatan ini terjadi usai putusan pengadilan federal AS yang memblokir kebijakan tarif global era Presiden Donald Trump.

Namun, analis dari MUFG Bank, Derek Halpenny, menilai bahwa penguatan dolar ini tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, meskipun pengadilan memutuskan bahwa Trump tidak memiliki kewenangan menetapkan tarif terhadap hampir seluruh negara, Gedung Putih telah mengajukan banding, dan Trump kemungkinan akan mencari cara lain untuk mencapai kesepakatan dagang yang lebih menguntungkan.

“Putusan ini bisa memicu reli pasar jika tetap diberlakukan, karena akan mendorong optimisme terhadap pertumbuhan global,” ungkap Ipek Ozkardeskaya, analis dari Swissquote Bank.

Data Ekonomi AS Melemah, Dolar Mulai Tertekan

Meski sempat menguat, tekanan terhadap dolar AS mulai terasa pada akhir pekan, terutama pada Kamis (29/5/2025) setelah rilis data ekonomi AS yang mengecewakan.

Klaim awal tunjangan pengangguran naik 14.000 menjadi 240.000, melampaui ekspektasi pasar di angka 230.000. Lebih lanjut, klaim lanjutan juga melonjak 26.000 menjadi 1,919 juta, tertinggi sejak November 2021.

Kondisi ini memperbesar ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama atau bahkan mempertimbangkan pelonggaran moneter jika data ekonomi terus memburuk.

Rupiah Unggul di Tengah Tekanan Regional

Di tengah tekanan pada mata uang Asia, rupiah justru menunjukkan performa solid terhadap sebagian besar mata uang kawasan. Terhadap won Korea Selatan, rupiah menguat 0,81%, sementara terhadap baht Thailand tercatat naik 0,77%.

Namun rupiah tercatat melemah tipis terhadap yuan China dan rupee India, masing-masing sebesar 0,22% dan 0,05%.

Analis menyebut penguatan rupiah didukung oleh masuknya dana asing ke pasar domestik, terutama di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang mencatat net buy sebesar Rp2,02 triliun selama periode transaksi 26-27 Mei 2025.

“Aliran dana asing menunjukkan keyakinan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia serta prospek pertumbuhan yang tetap atraktif dibandingkan negara lain di kawasan,” ujar seorang ekonom dari pasar modal lokal.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Terkoreksi Usai Reli 3 Hari, Investor Ambil Untung di Tengah Penguatan Dolar

Outlook Rupiah: Masih Berpeluang Menguat

Meskipun tekanan eksternal seperti penguatan dolar dan ketidakpastian global masih menghantui, sentimen terhadap rupiah dinilai relatif positif. Apalagi jika data inflasi dalam negeri tetap terkendali dan Bank Indonesia mampu menjaga kestabilan moneter.

Penguatan harga komoditas global juga turut menjadi katalis bagi rupiah, mengingat Indonesia merupakan eksportir utama untuk batu bara, nikel, dan CPO. (KSC)

Bacaan Lainnya

Pos terkait