KLKSUMUT.COM – Sumatera Utara – Kabupaten Tapanuli Tengah, yang dikenal dengan julukan “Negeri Wisata Sejuta Pesona”, terus menegaskan dirinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi Sumatera Utara. Tak hanya menyuguhkan keindahan alam pesisir barat Sumatera yang memukau, Tapanuli Tengah juga memiliki kekayaan sejarah dan religi yang mendunia. Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Makam Papan Tinggi Barus, situs bersejarah yang menjadi bukti masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-7.
Kemudahan akses menuju Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menjadi salah satu keunggulan utama sektor pariwisata daerah ini. Wisatawan kini dapat dengan mudah menjangkau Tapteng melalui jalur darat maupun udara.
Penerbangan Garuda Indonesia Airlines melayani rute Bandara Pinang Sori – Medan – Jakarta, disusul oleh maskapai Lion Air dan Susi Air yang memperluas konektivitas menuju berbagai kota besar. Dengan infrastruktur transportasi yang semakin baik, Tapteng kini semakin terbuka untuk wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kecamatan Barus, yang juga dikenal sebagai “Bandar Tua”, pernah menjadi pelabuhan perdagangan internasional terbesar di Asia. Pada masa silam, Barus terkenal sebagai pusat ekspor kapur barus dan menjadi pintu masuk penting bagi para pedagang dari Timur Tengah, India, hingga Tiongkok.
Di sinilah jejak sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara bermula — salah satunya ditandai oleh keberadaan Makam Papan Tinggi dan Makam Mahligai, dua situs bersejarah yang kini menjadi destinasi wisata religi unggulan Sumatera Utara.
BACA JUGA: Pantai Sorake, Surga Ombak Raksasa di Nias Selatan: Nomor Dua Terbaik di Dunia Setelah Hawai
Makam Papan Tinggi terletak di Desa Pananggahan, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah. Kompleks makam ini berada di atas bukit setinggi ±80 meter di sisi timur jalan Barus–Manduamas. Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menapaki sekitar 710 anak tangga, namun rasa lelah akan terbayar lunas dengan panorama alam dan nuansa spiritual yang menenangkan.
Kompleks ini berisi tujuh makam kuno, salah satunya diyakini sebagai makam Syekh Mahmud Al-Mutahzam atau Syech Mahmud Khatab, seorang ulama besar asal Yaman yang datang ke Barus sekitar abad ke-7 untuk berdakwah dan berdagang kapur barus.
Keunikan makam ini terletak pada bentuk nisan yang terbuat dari batu tegak tanpa kijing, serta adanya pohon besar di sekitarnya yang sering diikat dengan tali warna-warni oleh peziarah sebagai simbol doa dan harapan.
Selain nilai spiritualnya, Makam Papan Tinggi Barus juga menjadi destinasi wisata edukatif bagi pelajar, peneliti, maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang sejarah peradaban Islam di Indonesia.
Dari puncak bukit, pengunjung dapat menikmati keindahan panorama laut dan pesisir Barus, sekaligus meresapi suasana hening yang membawa kita seolah kembali ke masa silam.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah juga terus mendorong pengembangan kawasan wisata ini dengan memperbaiki akses jalan, fasilitas pendukung, serta promosi wisata digital untuk menarik lebih banyak wisatawan.
BACA JUGA: Pesona Kota Lama Semarang, Little Netherland yang Menawan di Tengah Kota
Dengan potensi wisata alam, sejarah, dan religi yang berpadu harmonis, Tapanuli Tengah layak menjadi destinasi unggulan di Sumatera Utara. Keberadaan Makam Papan Tinggi Barus bukan hanya menjadi bukti perjalanan sejarah Islam di Nusantara, tetapi juga simbol toleransi dan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Bagi Anda yang ingin merasakan kombinasi wisata spiritual dan keindahan alam, Makam Papan Tinggi di Barus, Tapanuli Tengah, adalah destinasi yang tak boleh terlewatkan. (KSC)








