KLIKSUMUT.COM | KUPANG – Di balik keterbatasan ekonomi dan kondisi kedua orangtuanya yang mengalami kebutaan, tersimpan semangat luar biasa dari seorang remaja bernama Sifra Takain. Gadis berusia 13 tahun asal Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini kembali menata masa depan dan mengejar cita-citanya menjadi dokter setelah bergabung di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang.
Sifra merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Maskrim Takain (39), dan ibunya, Tapui Aksamina Lobang (40), sama-sama mengalami tunanetra. Kondisi tersebut telah dialami kedua orangtuanya sejak Sifra lahir.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sifra tidak pernah kehilangan harapan. Justru keadaan yang dialami keluarganya menjadi motivasi terbesar untuk meraih pendidikan setinggi mungkin.
Sifra menceritakan bahwa kedua orangtuanya sebenarnya lahir dalam kondisi fisik normal. Namun, sang ayah mengalami penyakit serius sejak kecil yang secara perlahan merusak tubuhnya hingga menyebabkan kehilangan penglihatan.
“Organ dalamnya luka, tapi tidak tahu penyebabnya sampai luar badan juga luka. Terakhir sampai merambat di mata, jadinya buta,” tutur Sifra, Sabtu (13/6/2026).
Kondisi kesehatan yang memburuk membuat berbagai upaya pengobatan tidak mampu mengembalikan penglihatan ayahnya. Sementara penyebab kebutaan ibunya tidak diketahui secara pasti.
Karena keterbatasan fisik tersebut, kedua orangtuanya kesulitan memperoleh pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka membantu membersihkan rumah keluarga, menjaga kios sembako milik orangtua, serta mengandalkan bantuan sosial pemerintah melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
Selain itu, pasangan tunanetra tersebut juga membuka jasa pijat refleksi di rumah mereka. Namun penghasilannya tidak menentu.
“Kadang ada yang bayar Rp50 ribu, kadang juga ada yang tidak bayar,” ungkap Sifra.
Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi keluarganya, Sifra menyimpan cita-cita mulia. Ia ingin menjadi dokter agar dapat membantu banyak orang yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Mau jadi dokter supaya bisa merawat orang yang sakit,” ucapnya penuh semangat.
Impian tersebut lahir dari pengalaman hidupnya yang melihat langsung perjuangan kedua orangtuanya menghadapi keterbatasan fisik dan akses kesehatan.
Harapan baru hadir ketika Sifra diterima sebagai siswa di SRMP 19 Kupang. Sekolah berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu itu memberinya kesempatan belajar tanpa dibebani biaya pendidikan.
Seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari seragam, sepatu, tas, alat tulis, makanan, hingga kebutuhan asrama. Berbagai fasilitas pendidikan modern juga tersedia untuk menunjang proses belajar mengajar.
Fasilitas tersebut meliputi perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium sains, lapangan olahraga, hingga tempat ibadah yang representatif.
Bagi Sifra, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi pintu menuju masa depan yang lebih cerah.
Tidak hanya fokus belajar di kelas, Sifra juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Ia mengembangkan kemampuan diri melalui taekwondo, Pramuka, futsal, jurnalistik, dan paduan suara.
Salah satu hal yang paling membuatnya antusias adalah kesempatan mempelajari coding atau pemrograman komputer, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan bisa dipelajari.
Lingkungan belajar yang nyaman dan fasilitas yang lengkap membuat Sifra semakin percaya diri dalam meraih cita-citanya.
Dengan mata berbinar penuh harapan, Sifra menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diperolehnya melalui Sekolah Rakyat.
“Terima kasih Bapak Presiden karena sudah membuka Sekolah Rakyat bagi kami keluarga yang tidak mampu,” ujarnya.
Kisah Sifra Takain menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Dengan dukungan pendidikan yang tepat, anak-anak Indonesia dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai masa depan yang lebih baik. (KSC)
TIM REDAKSI








