KLIKSUMUT.COM | PURWAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan industri logam nasional untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan memperkuat agenda industrialisasi berkelanjutan. Langkah konkret diwujudkan melalui groundbreaking fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 milik PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri baja nasional memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur, teknologi, serta pengembangan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi.
“Kapasitas industri baja nasional terus tumbuh dan semakin kompetitif. Dalam lima tahun terakhir, produksi baja nasional meningkat hampir 98,5 persen dibandingkan tahun 2019,” ungkap Menperin pada Senin (26/1/2026).
Untuk memperkuat industri baja, Kemenperin mengoptimalkan kebijakan strategis, antara lain: penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri dan insentif fiskal dan penerapan industri hijau.
BACA JUGA: Kemenperin Tegaskan Investasi di Indonesia Harus Bawa Alih Teknologi dan Perkuat Industri Nasional
“Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional, sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” tambah Menperin.
Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, mewakili Dirjen ILMATE, menyampaikan harapannya agar fasilitas CGL 2 dapat beroperasi optimal dan memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi nasional serta penguatan industri dalam negeri.
VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, menjelaskan pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen memperkuat industri midstream baja nasional, yang menghubungkan industri hulu dan hilir. Saat ini, PT Tata Metal Lestari sudah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.
“Dengan fasilitas baru ini, kami menargetkan kapasitas produksi 250 ribu ton baja lapis per tahun, menambah total produksi menjadi 500 ribu ton per tahun,” jelas Stephanus.
BACA JUGA: JNE Raih Tiga Penghargaan Bergengsi di Indonesia Best Halal Awards 2026
PT Tata Metal Lestari bekerja sama dengan Tenova, perusahaan teknologi asal Italia, untuk memastikan proses produksi efisien dan ramah lingkungan. Investasi ini juga mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission melalui efisiensi energi dan optimasi proses.
Selain memperkuat ketahanan industri nasional, kehadiran CGL 2 diprediksi memberikan multiplier effect bagi daerah, menciptakan lapangan kerja baru sekitar 350 orang, serta menggerakkan ekonomi lokal di Purwakarta dan Jawa Barat.
“Proyek ini merupakan line pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali lipat,” pungkas Stephanus. (KSC)
TIM REDAKSI






