Kemajuan Teknologi Digital Sepanjang Tahun 2021

Kemajuan Teknologi Digital Sepanjang Tahun 2021
engunjung berjalan di belakang objek anatomi 3d tengkorak manusia di stand perusahaan AS Stratasys selama pameran internasional FabCon 3.D dan Rapid.Tech di Messe Erfurt di Erfurt, Jerman, Selasa, 25 Juni 2019. (Foto: AP/ Jens Meyer)

ITALI | kliksumut.com Pada tahun 2021, teknologi digital lebih banyak diaplikasikan dalam dunia nyata daripada sebelumnya. Teknologi ini bahkan ikut membantu memecahkan masalah yang diciptakan oleh pandemi.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com bahwa Teknologi pencetakan tiga dimensi — atau 3D printing — terus dimanfaatkan dengan cara-cara yang inovatif pada tahun 2021.

Di Italia, teknologi itu digunakan untuk menciptakan sebuah mahakarya. Teknisi memindai patung David karya Michelangelo pada Desember 2020. Data yang diperoleh digunakan untuk mencetak replika patung tersebut.
Patung itu dipamerkan di Dubai Expo 2020 yang baru digelar pada Oktober 2021 karena pandemi. Kehadiran patung itu memicu kontroversi karena sebagian besar penampakannya yang telanjang disembunyikan dari pandangan.

BACA JUGA: Ancaman atau Keuntungan Teknologi MASS untuk Dunia Maritim Indonesia?

Bacaan Lainnya

Pencetakan tiga dimensi juga digunakan untuk membangun rumah tahun ini. Di California, printer industri digunakan untuk menciptakan rumah berkelanjutan dengan biaya terjangkau.
“Kami dapat mencetak dengan tepat apa yang kami butuhkan. Jadi ini adalah konstruksi tanpa limbah yang efektif. Artinya kami menghilangkan 15 hingga 25 kilogram limbah per meter persegi, yang biasa dihasilkan dalam pembangunan rumah tradisional,” ujar Sam Ruben, pendiri bersama Mighty Buildings, perusahaan yang mengembangkan rumah hasil pencetakan tiga-dimensi.

Di Belanda, teknologi ini digunakan untuk mencetak rumah beton. Rumah dengan dua kamar tidur ini tersusun dari 24 potongan beton yang dibangun oleh mesin cetak tiga dimensi dalam waktu 120 jam. Rumah tersebut mematuhi semua peraturan konstruksi Belanda dan kini dihuni.

Juga di Belanda, sebuah jembatan yang dibuat melalui pencetakan tiga dimensi didirikan di Amsterdam. Jembatan yang diresmikan oleh Ratu Belanda Maxima dengan bantuan robot ini dilengkapi sensor-sensor yang memungkinkan para peneliti di Imperial College London memantaunya secara real-time untuk mengevaluasi bagaimana jembatan itu digunakan.

Teknologi pencetakan tiga dimensi juga telah membantu dunia medis. Ilmuwan Israel menciptakan model tumor otak tiga dimensi dengan memanfaatkan jaringan sel pasien penderitanya. Pasien itu menderita glioblastoma, jenis kanker otak yang sangat agresif.

Sebuah bioprinter mampu mereplikasi tumor itu bersama dengan sel-sel lain dari otak pasien. Tumor yang dicetak itu bisa bertahan hidup selama sekitar dua bulan sehingga memungkinkan para peneliti mengujinya dengan berbagai obat kanker yang berbeda.
Mereka percaya cara ini memberikan hasil yang jauh lebih akurat karena sel-sel dalam cawan petri berperilaku berbeda dengan yang berada di dalam tubuh manusia.
Ronit Satchi-Fainaro, pemimpin studi itu di Universitas Tel Aviv. mengatakan, tumor model 3D ini lebih baik dalam meniru tingkat pertumbuhan dan perilaku sel.

BACA JUGA: Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Meningkatkan Brand Awareness

”Ini hal yang paling menarik dalam penelitian kanker karena bisa memperoleh hasil yang lebih akurat. Ini juga hal menarik dalam pengembangan organ tiruan. Kita bisa menciptakan organ dan menempatkannya di dalam tubuh,” katanya.

Teknologi itu juga membantu dunia kesehatan hewan. Seorang mahasiswa kedokteran hewan Polandia mengembangkan metode pencetakan tiga dimensi untuk membuat kaki palsu anjing. Kaki itu tidak perlu disambungkan melalui pembedahan dan harganya relatif murah.

Di Jerman, teknologi digital juga membantu orang-orang mengenang sejarah berdirinya Tembok Berlin 60 tahun lalu secara lebih dekat. Para ilmuwan mengembangkan aplikasi realitas virtual tertambah kanyang memungkinkan seseorang, contohnya, mengukur seberapa dekat lokasi tank militer Uni Sovier dari tank milliter AS pada saat konflik meruncing.
Di Tokyo, Jepang, papan reklame muncul dalam bentuk kucing tiga dimensi yang mampu bergerak dan mengeong. Tingginya 8,16 meter dan panjangnya 18,96 meter.

Kucing raksasa itu berfungsi menyambut orang-orang yang berjalan di bawahnya tujuh kali setiap jam, dari pukul 07.00 hingga 18.00.

Di Kanada, teknologi hologram membantu seorang perempuan menjadi pengiring pengantin pada pernikahan sahabatnya, meskipun terjebak di London karena pembatasan perjalanan terkait COVID-19.
Di era COVID, teater-teater juga memanfaatkan teknologi digital. Royal Shakespeare Company menciptakan sebuah drama realitas virtual yang diilhami drama panggung A Midsummer Night’s Dream. Para aktor mengenakan pakaian khusus penangkap gerak dan berubah menjadi avatar. Pertunjukan mereka disiarkan langsung ke penonton secara online.

Realitas virtual juga membantu teater Ceko terhubung dengan penontonnya. Para aktor mementaskan drama di sekitar kamera 360 derajat yang merekam semua aksi dari setiap sudut. Wahasil, penonton di rumah yang mengenakan headset realitas virtual merasa seperti berada di tengah-tengah adegan itu.

London Fashion Week menghadirkan realitas tertambahkan dalam pergelarannya. Rumah mode digital Auroboros menunjukkan koleksi ready-to-wear digital pertama di acara tersebut. Bermitra dengan Institute of Digital Fashion, rumah mode itu juga merilis gaun bernama ‘Venus Trap’ ke publik melalui papan reklame yang berisi kode QR. Dengan mengklik kode, orang dapat mencoba gaun itu secara digital dan memanfaatkannya dalam aplikasi Snapchat dan realitas tertambahkan. (voa)

Pos terkait