Dia menyebut informasi awal menyebutkan ada satu warga Indonesia yang terlibat ISIS namun BIN akan masih mengumpulkan bukti pendukung yang kuat.
Ormas yang Dekat Taliban
Pengamat terorisme dari Univeristas Malikussaleh, Al Chaidar, mengaku merasa ane jika BIN mendeteksi organisasi teroris yang memiliki kedekatan ideologi dengan Taliban. Menurutnya, BIN harus menyebut organisasi mana yang memiliki kemiripan ideologi dengan Taliban.
“Taliban sendiri juga sudah memutuskan hubungannya dengan al Qaeda dan sudah berjanji tidak akan menjadikan negara itu (Afghanistan) sebagai tempat untuk menyerang negara lain. Artinya dia tidak bekerjasama dengan teroris yang lain,” ujar Al Chaidar.
Al Chaidar menilai kebijakan BIN untuk mendeteksi kelompok-kelompok yang memiliki kesamaan ideologi Taliban sebagai langkah yang salah kaprah.
BACA JUGA: Eurico Guterres Terduga Pelanggaran HAM, Presiden Diminta Cabut Bintang Jasa Utama
Dia mengakui kemenangan Taliban di Afghanistan akan sangat berpengaruh terhadap mereka yang berafiliasi kepada Al-Qaidah. Mereka akan mengadopsi cara-cara yang dipakai Taliban. Bagi anggota ISIS di Indonesia, seperti JAD, JAT, dan MIT, juga akan berusaha melawan kemenangan Taliban ini karena merasa malu dengan kemenangan kelompok militan tersebut.
Al Chaidar mengatakan jaringan ISIS di Indonesia mungkin akan melakukan serangan habis-habisan karena takut anggota mereka bisa bersimpati kepada Taliban.
Al Chaidar mengakui perubahan ideologi Taliban dari jihadis Wahabi menjadi bermazhab Hanafi, sangat menarik diikuti. Ini merupakan adaptasi ijtihadiyah di mana mereka harus bekerja sama dengan masyarakat internasional dan mengakui hak-hak asasi manusia, hak perempuan, kaum minoritas, dan sebagainya.
Menurut Al Chaidar, faktor pemicu utama perubahan ideologi Taliban adalah adanya ulama-ulama yang bermazhab Syafii dan Hanafi, seperti Abdul Ghani Baradar. Perubahan itu juga dipengaruhi karena adanya tekanan masyarakat internasional untuk berubah. (voa)








