Jadi Model Barbie, Pakar Vaksin Inggris Sulit Membayangkan

Jadi Model Barbie, Pakar Vaksin Inggris Sulit Membayangkan
Boneka Barbie yang dibuat mirip dengan Sarah Gilbert, Profesor Universitas Oxford yang ikut merancang vaksin Oxford/AstraZeneca. (Foto: Oxford University/via Reuters)

INGGRIS | kliksumut.com – Sungguh luar biasa, ada salah seorang perempuan yang dianggap sebagai perintis pengembangan vaksin COVID-19 baru-baru ini mendapat kehormatan yang tidak pernah dibayangkannya. Ia dijadikan salah satu model boneka terkenal Barbie.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com bahwa Dame Sarah Gilbert, dosen ilmu vaksin di Universitas Oxford, Inggris, masih sulit membayangkan dirinya menjadi salah satu model boneka Barbie.

“Sungguh konsep yang sangat aneh untuk membuat boneka Barbie yang menyerupai saya. Saya berharap, boneka ini akan mendorong banyak perempuan memilih karier di bidang sains. Sejujurnya, ketika saya masih kecil, saya tidak pernah membayangkan akan memiliki karier di bidang sains,” katanya.

Gilbert adalah pemimpin proyek pengembangan vaksin COVID-19 di Universitas Oxford yang menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi AstraZenecca. Vaksin yang dikembangkan timnya – yang dikenal dengan sebutan vaksin AstraZenneca – telah digunakan di banyak negara. Karena vaksin itulah, ia terpilih menjadi model boneka Barbie.

BACA JUGA: Pakar: Vaksin Masih Efektif Lawan COVID-19 Parah

“Saya sudah lama mengembangkan berbagai vaksin. Saya membuat vaksin untuk melawan penyakit yang tidak sering menginfeksi manusia tetapi terkadang dapat menyebabkan wabah. Kita harus siap untuk memiliki perlindungan ketika wabah terjadi. Saya sangat bangga dengan pekerjaan yang dilakukan tim saya. Kami mengembangkan vaksin dalam waktu yang sangat cepat,” jelasnya.

Perempuan berusia 59 tahun itu bergabung dengan lima perempuan lain di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) dan perawatan kesehatan yang sebelumnya telah diabadikan dengan boneka Barbie mereka masing-masing.

Mereka adalah perawat ruang gawat darurat Amy O’Sullivan, yang merawat pasien COVID-19 pertama di Rumah Sakit Wycoff di Brooklyn; Dr. Audery Cruz, seorang pekerja garis depan dari Las Vegas yang bergabung dengan para dokter Amerika keturunan Asia lainnya untuk melawan bias dan diskriminasi rasial; Dr. Chika Stacy Oriuwa, seorang residen psikiatri di Universitas Toronto yang telah menganjurkan melawan rasisme sistemik dalam perawatan kesehatan.

Pos terkait