Inflasi April 2026 Melandai, Harga Pangan Pasca Lebaran Mulai Stabil

Inflasi April 2026 Melandai, Harga Pangan Pasca Lebaran Mulai Stabil
Tren penurunan inflasi pada April 2026 menunjukkan meredanya tekanan harga pangan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Normalisasi permintaan masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong turunnya harga sejumlah komoditas strategis di dalam negeri.

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Tren penurunan inflasi pada April 2026 menunjukkan meredanya tekanan harga pangan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Normalisasi permintaan masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong turunnya harga sejumlah komoditas strategis di dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, beberapa komoditas pangan utama seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah menjadi penyumbang terbesar deflasi pada April 2026.

Bacaan Lainnya

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau merupakan pola yang umum terjadi setelah periode Ramadan dan Idulfitri.

“Tingkat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau umumnya lebih rendah pada periode pasca-Lebaran seiring normalisasi permintaan masyarakat,” ujarnya di Jakarta, dikutip Rabu  (6/5/2026).

Sejumlah komoditas strategis tercatat mengalami penurunan harga cukup signifikan. Daging ayam ras yang sebelumnya mencatat inflasi 3,30 persen pada Maret, berubah menjadi deflasi 6,20 persen di April. Sementara itu, telur ayam ras turun dari inflasi 2,34 persen menjadi deflasi 4,29 persen.

Komoditas cabai juga mengalami penurunan, dengan cabai rawit deflasi 14,98 persen dan cabai merah turun 2,59 persen.

BACA JUGA: DPD RI Perkuat Sinergi dengan Bapanas, Kawal Program Pangan Pemerintahan Prabowo Subianto Tepat Sasaran

Penurunan ini turut berdampak pada inflasi pangan secara keseluruhan. Secara tahunan, inflasi pangan turun dari 4,24 persen menjadi 3,37 persen, masih berada dalam kisaran target pemerintah sebesar 3–5 persen. Sementara secara bulanan, terjadi deflasi 0,88 persen.

Menariknya, deflasi pada April tercatat sebagai tren berulang dalam tiga tahun terakhir, dengan angka yang semakin dalam pada 2026.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyambut baik stabilitas harga pangan pasca-HBKN. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan rantai pasok pangan nasional berjalan lebih baik.

“Alhamdulillah harga relatif stabil dan ini ditunjukkan oleh data BPS. Kita harus dukung kondisi ini,” ujarnya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen agar tidak terjadi tekanan yang merugikan petani maupun masyarakat.

Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog terus mengoptimalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), termasuk distribusi jagung pakan bagi peternak.

BACA JUGA: Rakernas ASBF Indonesia 2026 di Bali Perkuat Kolaborasi UKM Asia, Usung Tema Human + Tech

Program ini menyasar lebih dari 5.000 peternak di 26 provinsi dengan estimasi penyaluran 213,1 ribu ton jagung guna menekan biaya produksi unggas.

Selain itu, langkah Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) juga dilakukan untuk mengatasi fluktuasi harga cabai, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang masih mengalami harga tinggi. Stok dari daerah surplus seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara disalurkan untuk menyeimbangkan pasokan nasional.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga pangan dapat terus terjaga hingga periode Hari Raya Iduladha mendatang, sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap kuat di tengah dinamika ekonomi nasional. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait